Kejutan di Istora: Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping Tersingkir Dramatis dari Polytron Indonesia Open 2026
Perempat final Polytron Indonesia Open 2026 yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, pada Jumat (5/6/2026) menyajikan drama yang tak terduga dan mengejutkan publik. Di tengah persaingan sengit memperebutkan tiket semifinal, sebuah hasil minor terjadi di nomor ganda campuran. Pasangan ganda campuran nomor satu dunia asal Tiongkok, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, harus menghentikan langkahnya lebih awal setelah takluk dalam pertarungan dramatis melawan kompatriot mereka sendiri.
Kekalahan ini tentu menjadi pukulan telak bagi Feng/Huang yang berstatus sebagai unggulan teratas. Langkah mereka untuk meraih gelar juara di turnamen bergengsi ini otomatis terhenti, menambah daftar catatan minor yang selalu menghantui mereka di ajang yang sama.
Duel Sengit Melawan Rekan Senegara
Pertandingan perempat final tersebut mempertemukan Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping dengan junior mereka sesama wakil Tiongkok, Cheng Xing/Zhang Chi. Pertarungan memperebutkan tiket semifinal berlangsung sangat ketat dan penuh drama. Kedua pasangan menampilkan permainan level tinggi, saling jual beli serangan dan pertahanan yang memukau ribuan penonton yang memadati Istora.
Setelah melalui duel sengit selama 64 menit, Feng/Huang akhirnya harus mengakui keunggulan Cheng/Zhang. Pasangan nomor satu dunia ini tak mampu berbuat banyak dan harus menelan kekalahan melalui tiga game dengan skor akhir yang sangat tipis, yaitu 14-21, 21-11, dan 19-21. Kekalahan ini menunjukkan bahwa tekanan dalam pertandingan, ditambah dengan performa apik dari Cheng/Zhang, benar-benar membuat Feng/Huang kesulitan untuk mengembangkan permainan terbaik mereka.
Kutukan Istora: Tren Negatif yang Berlanjut
Kekalahan ini bukan sekadar hasil pertandingan biasa, melainkan sebuah penegasan terhadap tren negatif yang terus membayangi Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping di Istora Senayan, khususnya dalam ajang Polytron Indonesia Open. Turnamen BWF World Tour Super 1000 di Indonesia ini seolah menjadi arena yang sangat sulit untuk mereka taklukkan, sebuah anomali bagi pasangan yang mendominasi peringkat dunia.
Jika kita menilik kembali rekam jejak Feng/Huang di turnamen ini, catatan mereka memang kurang memuaskan, terutama ketika harus berhadapan dengan wakil dari negara mereka sendiri.
- Edisi 2023: Ini merupakan debut Feng/Huang sebagai pasangan di tahun 2023. Mereka berhasil menunjukkan performa yang cukup menjanjikan dengan menembus babak semifinal. Namun, asa mereka untuk melaju ke partai puncak harus kandas di tangan pasangan senior mereka yang juga kompatriot, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong.
- Edisi 2024: Pada tahun berikutnya, Feng/Huang kembali mencoba peruntungan mereka di Indonesia Open. Namun, nasib kembali mempertemukan mereka dengan rekan senegara di babak krusial. Kali ini, giliran Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin yang berhasil menghentikan langkah mereka di babak perempat final.
- Edisi 2025: Catatan paling kelam bagi Feng/Huang terjadi pada edisi 2025. Performa mereka justru mengalami penurunan yang signifikan, terhenti di babak 16 besar. Ironisnya, batu sandungan mereka kali ini pun adalah pasangan yang sama dengan yang mengalahkan mereka di tahun 2026, yaitu Cheng Xing/Zhang Chi.

Sejarah Berulang, Cheng/Zhang Menjelma Menjadi Momok
Sejarah seolah berulang secara brutal pada edisi 2026 ini. Cheng Xing/Zhang Chi kembali muncul sebagai momok yang menakutkan bagi pasangan nomor satu dunia asal Tiongkok tersebut, khususnya ketika bertanding di Indonesia. Kemenangan ini semakin menegaskan dominasi psikologis Cheng/Zhang atas Feng/Huang dalam konteks turnamen di Indonesia.
Dengan hasil minor ini, dapat divalidasi bahwa Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping hingga saat ini belum mampu “menjinakkan” keangkeran turnamen Super 1000 di Indonesia.
Sementara itu, bagi Cheng Xing/Zhang Chi, kemenangan dramatis ini menjadi modal berharga dan suntikan motivasi yang luar biasa. Mereka kini berhak melaju ke babak semifinal dan akan terus berjuang untuk memburu gelar juara di Polytron Indonesia Open 2026. Hasil ini juga membuktikan bahwa persaingan internal di Tiongkok sangat ketat, bahkan pasangan yang belum menduduki peringkat teratas pun mampu memberikan kejutan besar dan mengalahkan para elite dunia.












