Juara Asia & Top 5 Dunia, Biaya Halangi PHD Crew Ambon ke Amerika

Perjuangan PHD Crew: Dari Halong Atas Menuju Panggung Dunia, Terbentur Kendala Biaya

AMBON – Mimpi besar tengah membentang di hadapan para penari muda dari People Halong Dance (PHD) Crew, sebuah kelompok tari kebanggaan Kota Ambon. Setelah menorehkan prestasi gemilang dengan menembus posisi Top 5 Global dan Top 1 Asia dalam ajang bergengsi World of Dance (WOD) 2026, kesempatan emas untuk tampil di kancah internasional di Amerika Serikat kini terbuka lebar. Namun, di balik kebanggaan atas pencapaian luar biasa yang mengharumkan nama Ambon dan Indonesia, terselip sebuah persoalan klasik yang menjadi momok terbesar mereka: keterbatasan finansial.

Ketua PHD Crew, Brian Manuhutu, mengungkapkan rencana timnya untuk berpartisipasi dalam World of Dance Summit yang dijadwalkan berlangsung pada 7 hingga 10 Juli 2026 di Anaheim Convention Center, California, Amerika Serikat. Kesempatan ini merupakan buah manis dari kerja keras dan dedikasi mereka yang akhirnya diakui di kancah global.

“Kami sangat bersemangat untuk berangkat dan mengikuti World of Dance Summit di Amerika Serikat. Namun, hingga saat ini, kendala utama yang kami hadapi tetaplah soal biaya,” ujar Brian dengan nada prihatin.

Bagi sebagian orang, pencapaian masuk dalam lima besar dunia mungkin terkesan instan. Namun, bagi PHD Crew, prestasi tersebut adalah hasil dari perjalanan panjang yang terbentang lebih dari satu dekade, penuh dengan lika-liku perjuangan.

Sejarah dan Evolusi PHD Crew: Dari Kegiatan Kerohanian Hingga Kompetisi Global

PHD Crew secara resmi dibentuk pada tanggal 14 Desember 2012 di Kota Ambon. Awalnya, kelompok ini didirikan oleh Marco Harold Uktolseja dengan tujuan sederhana, yaitu mengisi berbagai kegiatan kerohanian dan perayaan Natal. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kelompok ini akan berkembang hingga mencapai titik ini.

Brian Manuhutu sendiri bergabung dengan komunitas ini pada tahun 2013. Setelah Marco Harold Uktolseja menjabat sebagai ketua pertama, estafet kepemimpinan kemudian diserahkan kepada Brian hingga saat ini, sementara Marco kini berperan sebagai pembina.

Selama 13 tahun eksistensinya, PHD Crew telah melalui empat kali proses rekrutmen anggota. Kini, mereka memiliki 31 anggota aktif yang berasal dari berbagai penjuru Kota Ambon. Perjalanan yang konsisten ini tentu tidak lepas dari berbagai tantangan yang harus dihadapi.

Salah satu masalah internal yang kerap mereka hadapi adalah pergantian anggota. “Kami sering mengalami persoalan internal seperti anggota yang keluar masuk. Namun, kami terus berusaha untuk bertahan dan berkembang,” jelas Brian.

Mengatasi Keterbatasan Finansial dengan Semangat “Mengamen”

Keterbatasan finansial menjadi cerita yang tak terpisahkan dari perjalanan PHD Crew. Untuk membiayai kebutuhan latihan hingga mengikuti berbagai kompetisi, para anggota terpaksa mencari dana secara mandiri. Berbagai cara kreatif mereka tempuh, mulai dari menggelar bazar, menjual makanan, hingga tampil menari di berbagai tempat untuk mengumpulkan sumbangan.

“Kami pernah menggelar bazar makanan, menjual ayam, dan berbagai hidangan lainnya. Kami juga tampil menari di jalanan untuk mencari sumbangan. Istilahnya, kami mengamen,” ungkap Brian.

Ia menceritakan sebuah momen yang cukup memilukan, di mana timnya pernah hanya menerima bayaran sebesar Rp300 ribu setelah tampil menari seharian penuh. “Nilainya memang kecil, tetapi itu tidak pernah sedikit pun menurunkan semangat kami untuk terus maju,” tegasnya.

Semangat Pantang Menyerah dalam Setiap Detail: Kostum Buatan Sendiri

Semangat pantang menyerah itu juga terpancar jelas dalam proses persiapan mereka menuju World of Dance 2026. Alih-alih menggunakan kostum mewah yang mahal, para anggota justru memilih untuk membuat sendiri kostum yang akan mereka kenakan di panggung kompetisi internasional tersebut.

Mereka membeli bahan pakaian dan kemudian memodifikasinya secara manual agar sesuai dengan konsep pertunjukan yang mereka usung. “Kostum itu kami buat sendiri. Baju yang sudah jadi kami gunting lalu dijahit ulang sesuai desain yang kami inginkan,” kata Brian.

Bahkan, dua anggota tim, Georgia Esperanza Claudya dan Henny Nova Yuliana Reimialy, rela mengorbankan waktu istirahat mereka. Mereka menjahit kostum secara manual selama tiga hari berturut-turut, bahkan sampai tidak tidur demi menyelesaikan kostum yang akan dipakai saat tampil.

Rekam Jejak Prestasi: Dari Tingkat Nasional Hingga Panggung Global

Perjuangan panjang yang mereka jalani perlahan mulai membuahkan hasil yang manis. Sebelum berhasil menembus Top 5 Global, PHD Crew telah mengukir berbagai prestasi di tingkat nasional.

  • 2016: Berpartisipasi dalam ajang Dance Icon di program Inbox SCTV, Jakarta, dan berhasil mencapai babak final mingguan.
  • 2019: Meraih Juara II dalam kompetisi Hip Hop International Indonesia di Jakarta.
  • 2022: Meraih Juara III dalam kompetisi Eat’DBeat di Bandung.
  • 2024: Dalam ajang World of Dance Indonesia di Bali, PHD Crew berhasil menempati posisi kelima nasional dan memperoleh wild card untuk tampil di Amerika Serikat.

Sayangnya, kesempatan emas pada tahun 2024 tersebut terpaksa harus dilewatkan karena keterbatasan dana. “Kami sebenarnya sudah mendapatkan wild card ke Amerika pada tahun 2024, tetapi tidak bisa berangkat karena terkendala biaya,” tutur Brian.

Pengalaman pahit tersebut justru menjadi motivasi besar bagi seluruh anggota untuk bangkit dan membuktikan kualitas mereka di World of Dance 2026. Hasilnya pun tidak mengecewakan. PHD Crew sukses meraih skor 96,35 poin dan menempatkan diri sebagai Top 1 Asia sekaligus Top 5 Global.

Harapan untuk Dukungan: Mewujudkan Mimpi Tampil di Amerika Serikat

Kini, peluang untuk tampil di panggung dunia kembali terbuka. Dengan struktur organisasi yang solid, dipimpin oleh Brian Manuhutu sebagai ketua, Georgia Esperanza Claudya sebagai sekretaris, Michello Steve Likumahwa sebagai bendahara, dan Marco Harold Uktolseja sebagai pengawas, PHD Crew sangat berharap mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan mimpi mereka tampil di Amerika Serikat.

Saat ini, mereka bahkan belum memiliki basecamp yang memadai untuk berlatih secara rutin. Sebagian anggota masih berstatus sebagai mahasiswa, sementara yang lainnya sudah bekerja.

“Kami tidak memiliki jadwal latihan yang tetap karena belum ada tempat latihan yang memadai, dan semua anggota juga memiliki kesibukan masing-masing. Biasanya, kami baru bisa fokus latihan secara rutin ketika ada sebuah acara besar,” ungkap Brian.

Meskipun demikian, keterbatasan yang ada tidak sedikit pun menghalangi mereka untuk terus berprestasi. Keberhasilan menembus Top 5 Global World of Dance menjadi bukti nyata bahwa talenta muda Ambon mampu bersaing dengan tim-tim terbaik di tingkat dunia.

Kini, satu harapan besar sedang mereka perjuangkan: membawa nama Ambon dan Indonesia tampil secara langsung di panggung World of Dance Summit 2026 di Amerika Serikat. Jika dukungan dan pendanaan yang memadai dapat segera terealisasi, mimpi yang selama ini terasa jauh di mata akhirnya dapat menjadi sebuah kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *