Natuna – YUTELNEWS.com
Beredarnya pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp yang beredar luas di sejumlah grup publik telah memunculkan dugaan adanya kegagalan dalam pelaksanaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Sedanau. Dugaan tersebut mencuat seiring informasi mengenai pencabutan sejumlah meter air pelanggan oleh petugas, sehingga menimbulkan polemik serta beragam penafsiran di tengah masyarakat.
Informasi tersebut diketahui telah tersebar secara masif dan dibagikan ke sejumlah grup WhatsApp publik, di antaranya Berita Natuna Group dan CCTV-nya Masyarakat Natuna, yang masing-masing beranggotakan kurang lebih 1.000 orang. Awak media YUTELNEWS.com mengetahui peredaran pesan tersebut karena turut tergabung dalam grup-grup WhatsApp dimaksud.
Dalam pesan yang beredar, menyampaikan pernyataan bernada dugaan sekaligus pesimisme terhadap keberlangsungan program SPAM Sedanau. Adapun isi pesan tersebut berbunyi:
“Nampaknya akan gagal air bersih SPAM Sedanau, karena sudah banyak yang diputuskan meterannya dan diambil oleh petugas. Kurang tahu apa permasalahannya. Kalau sudah banyak yang diputuskan dari rumah-rumah warga, berarti gagal lah. Padahal beberapa waktu lalu baru saja diresmikan oleh Bupati.”
Selain narasi teks, pesan WhatsApp yang beredar tersebut juga dilengkapi dengan sebuah foto yang ditampilkan sebagai bagian dari pesan. Foto tersebut beredar bersamaan dengan pesan di sejumlah grup WhatsApp publik dan menjadi salah satu materi informasi yang diterima oleh masyarakat.
Pesan tersebut kemudian menyebar luas dan memantik beragam asumsi serta spekulasi di tengah masyarakat, yang menilai bahwa proyek SPAM Sedanau tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan maupun diharapkan.
Awak media YUTELNEWS.com mengetahui pesan tersebut mulai beredar pada Senin, 15 Desember 2025, sekitar pukul 18.20 WIB. Tidak berselang lama, awak media menerima sambungan telepon dari Ketua IWOI Kabupaten Natuna, Bahrullazi. Dalam komunikasi tersebut dilakukan sambungan telepon tiga arah antara awak media, Bahrullazi, dan Direktur Utama Perumda Tirta Nusa Kabupaten Natuna, Zaharuddin, S.Pd.
Dalam sambungan telepon tiga arah tersebut, Zaharuddin menegaskan bahwa narasi yang berkembang melalui pesan WhatsApp tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi faktual di lapangan. Ia menyampaikan bahwa pencabutan meter pelanggan di Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, bukan disebabkan oleh kegagalan operasional SPAM, melainkan dilakukan atas dasar permintaan serta pernyataan langsung dari pelanggan yang bersangkutan.
Dalam kesempatan yang sama, Zaharuddin juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat mencoba menghubungi langsung nomor yang diduga sebagai pengirim pesan WhatsApp yang beredar di grup publik tersebut. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan.
“Ketika saya mencoba menelpon nomor tersebut, ternyata yang mengangkat telepon adalah orang lain, bukan yang bersangkutan,” ungkap Zaharuddin dalam sambungan telepon tiga arah itu.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan keraguan terhadap kejelasan sumber pesan yang beredar, sehingga informasi yang disampaikan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat apabila tidak segera diluruskan melalui klarifikasi resmi dan berimbang.
Guna memperkuat klarifikasi dan memastikan akurasi pemberitaan, sekitar pukul 20.15 WIB awak YUTELNEWS.com kembali mengonfirmasi Zaharuddin melalui sambungan telepon untuk memperoleh penjelasan yang lebih rinci dan komprehensif. Dalam kesempatan tersebut, awak media juga meminta bukti administrasi berupa surat pernyataan pelanggan terkait pencabutan meter air. Menindaklanjuti permintaan itu, Zaharuddin meminta salah satu karyawannya, untuk segera mengirimkan dokumen yang dimaksud kepada awak media.
Berdasarkan surat pernyataan yang diterbitkan oleh Perumda Tirta Nusa Kabupaten Natuna, disebutkan bahwa pencabutan meter dilakukan karena pelanggan menyatakan secara sadar dan sukarela tidak bersedia menjadi pelanggan SPAM Sedanau. Salah satu surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh warga Sedanau bernama Hafizah, yang secara tertulis menyatakan penolakan untuk menjadi pelanggan Perumda Tirta Nusa Kabupaten Natuna.
Zaharuddin juga menjelaskan bahwa pada 12 November 2025 pihaknya telah melakukan pendataan sementara guna mengidentifikasi warga Sedanau yang bersedia menjadi pelanggan tetap maupun warga yang menyatakan penolakan. Bagi warga yang tidak bersedia, diwajibkan mengisi formulir pernyataan sebagai dasar administrasi. Selanjutnya, fasilitas meter air yang dicabut dari rumah warga yang menolak dialihkan kepada warga lain yang membutuhkan dan dipasang tanpa dipungut biaya.
Lebih lanjut, Zaharuddin menambahkan bahwa berdasarkan laporan petugas Perumda Tirta Nusa yang bertugas di Sedanau Andek” beliau menyampaikan masih terdapat sejumlah warga yang bersikap ragu-ragu atau belum mengambil keputusan secara final terkait pemanfaatan layanan air SPAM. Terhadap kelompok warga tersebut, pihak Perumda Tirta Nusa belum melakukan pencabutan meter dan memberikan ruang waktu agar warga dapat menentukan pilihan secara mandiri tanpa adanya paksaan.
Selain itu, Zaharuddin mengungkapkan bahwa sebagian warga menyampaikan alasan penolakan karena telah memiliki sumur sendiri atau telah lama menggunakan jasa air bor milik warga setempat. Alasan tersebut, menurutnya, disampaikan secara langsung oleh warga saat dirinya berada di lokasi pencabutan meter pelanggan.
Di lapangan, awak YUTELNEWS.com juga menghimpun beragam keterangan dari masyarakat terkait kebijakan biaya beban bulanan yang diterapkan. Sejumlah warga menyampaikan keberatan karena biaya beban tetap diwajibkan meskipun air belum mengalir secara maksimal atau belum dimanfaatkan secara optimal. Warga menilai ketentuan tersebut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi minat masyarakat untuk berlangganan layanan SPAM Sedanau.
Masyarakat pun berharap kepada pihak terkait, khususnya Perumda Tirta Nusa dan pemerintah daerah, agar kebijakan biaya beban bulanan tersebut dapat ditinjau kembali atau dievaluasi, sehingga layanan SPAM Sedanau dapat lebih diterima dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Selain faktor biaya, awak YUTELNEWS.com juga menemukan adanya warga yang memang tidak berminat menggunakan air SPAM karena telah lama mengandalkan jasa air bor setempat. Menurut warga, air bor yang digunakan selama ini dinilai telah mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan dapat langsung digunakan sebagai air konsumsi.
Namun demikian, di sisi lain terdapat pula warga yang memilih tetap berlangganan air SPAM meskipun juga menggunakan jasa air bor. Warga menilai air SPAM sangat membantu untuk kebutuhan rumah tangga seperti mencuci dan keperluan nonkonsumsi lainnya, mengingat penggunaan air bor dinilai lebih boros. Selain itu, tarif air SPAM dianggap relatif lebih terjangkau per meter kubik, sehingga keberadaan SPAM dinilai dapat berfungsi sebagai pelengkap terhadap sumber air yang telah ada sebelumnya.
Sebagai penutup, Zaharuddin menjelaskan bahwa hingga saat ini air SPAM Sedanau belum dapat dioperasikan secara penuh karena masih terdapat sejumlah kendala teknis di area instalasi SPAM. Ia menyebutkan bahwa pihak Perumda Tirta Nusa sebelumnya telah menyampaikan kondisi tersebut kepada pihak Kecamatan Bunguran Barat guna menjalin koordinasi, kerja sama, serta pertukaran masukan, sehingga masyarakat Sedanau dapat memahami situasi yang tengah dihadapi.
Menurut Zaharuddin, kendala tersebut berkaitan dengan sistem instalasi serta aspek teknis pengaliran air. Apabila pengoperasian dipaksakan, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penurunan tekanan air dan berdampak pada gangguan bahkan kerusakan sarana serta sistem pendukung lainnya, yang risikonya dinilai lebih besar di kemudian hari.
“Untuk itu, sementara waktu kami terus berupaya menyelesaikan kendala teknis tersebut agar ke depan pengoperasian air dapat berjalan lebih optimal dan maksimal. Saat ini, itulah satu-satunya kendala yang masih kami hadapi,” pungkas Zaharuddin.
Redaksi:
Darmansyah
Kabiro Natuna
YUTELNEWS.com










