Yutelnews.com
Natuna – Kecamatan Pulau Panjang, Kabupaten Natuna, hingga kini masih menghadapi keterbatasan infrastruktur transportasi laut. Belum tersedianya pelabuhan yang layak membuat aktivitas masyarakat bergantung pada pompong kecil, yang berisiko tinggi terutama saat cuaca tidak bersahabat. Kondisi ini mendorong warga kembali menyuarakan tuntutan kepada pemerintah agar segera merealisasikan pembangunan pelabuhan.
Tokoh masyarakat Serasan, Ilham, menegaskan bahwa pelabuhan bukan sekadar fasilitas penunjang, melainkan kebutuhan mendesak yang menyangkut keselamatan jiwa. Selama ini, warga Pulau Panjang harus menggunakan pompong dengan ongkos sekitar Rp30.000 per orang untuk mencapai kapal penumpang maupun melakukan perjalanan antarwilayah.
Pada Rabu, 17 Desember 2025, kondisi laut terpantau relatif tenang dengan angin yang bersahabat, sehingga proses naik kapal dapat dilakukan dengan lebih aman. Namun, situasi tersebut tidak mencerminkan kondisi sehari-hari. Saat angin kencang dan gelombang tinggi, masyarakat kerap kesulitan bahkan hanya untuk mendekatkan pompong ke kapal. Risiko terpeleset, terjatuh ke laut, hingga kecelakaan serius selalu mengintai.
Dalam kondisi tertentu, orang sehat saja sudah kesulitan naik kapal. Apalagi jika ada warga yang sakit dan membutuhkan pertolongan segera, ini sangat memprihatinkan,” ujar salah seorang warga Pulau Panjang.
Kesulitan tersebut semakin terasa ketika kapal penumpang seperti KM Sabuk Nusantara 48, yang dijadwalkan sandar sekitar pukul 01.30 WIB, harus melayani naik-turun penumpang tanpa dukungan pelabuhan yang memadai. Minimnya fasilitas keselamatan membuat proses tersebut menjadi sangat berisiko, terutama pada malam hari.
Masyarakat Pulau Panjang berharap pemerintah daerah, provinsi, hingga pemerintah pusat tidak lagi menunda pembangunan pelabuhan. Keberadaan pelabuhan dinilai krusial untuk menjamin keselamatan transportasi laut, mempercepat akses layanan kesehatan, serta membuka peluang peningkatan ekonomi dan konektivitas wilayah kepulauan terluar.
Warga menegaskan bahwa aspirasi ini bukan sekadar keluhan, melainkan seruan kemanusiaan agar negara hadir secara nyata di wilayah perbatasan dan kepulauan. (Reporter:Bani)





















