YUTELNEWS.com | Banyuwangi – Diduga pungutan berkedok sumbangan masih sering dilakukan di sekolah-sekolah di wilayah kabupaten Banyuwangi kemungkinan besar hal itu dilatar belakangi oleh ketidak cukupan biaya pendidikan yang tidak tercover oleh dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Senen 05/01/2026.
Lebih lanjut, belakangan ini tim media menerima informasi dari salah satu orang tua siswa yang bersekolah di SMP Negeri pesanggaran Kabupaten banyuwangi tentang adanya dugaan pungutan tersebut.
Menanggapi hal ini, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 pesanggaran Kabupaten banyuwangi Soejarno saat di konfirmasi lewat aplikasi wa shaap oleh seorang media selalu bungkam dan tidak ada respon sehingga berita ini di tayangkan.
Pembangunan musholla dan toilet di SMP Negeri 1 pesanggaran Kabupaten banyuwangi memicu perdebatan di kalangan wali murid. Di satu sisi, sekolah mengharapkan dukungan untuk meningkatkan fasilitas. Namun, di sisi lain, muncul keberatan terkait permintaan sumbangan yang dianggap memberatkan.
Seorang wali murid yang identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, ” Kami diundang ke sekolah untuk menerima hasil belajar siswa. Namun, wali kelas menyampaikan rencana pembangunan musholla dan toilet di belakang sekolah.”
Wali murid tersebut menambahkan, sekolah meminta sumbangan antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. “Saya merasa keberatan dengan nominal yang ditentukan. Sebagai keluarga kurang mampu, padahal pada saat itu juga dirinya sudah menyampaikan kepada gurunya keluarga saya kurang mampu dan anak saya, tapi pihak guru tetap saja menyampaikan sudah mengisi formulir kesanggupan Rp100 ribu sampai 200 rb aja,” ujarnya.
“Sumbangan seharusnya sukarela, tanpa paksaan nominal atau waktu. Mengapa yang seharusnya dibantu, malah dimintai sumbangan dengan nominal?” tegasnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 pesanggaran Kabupaten banyuwangi Soejarno saat di konfirmasi lewat aplikasi wa shaap oleh seorang media selalu bungkam dan tidak ada respon sehingga berita ini di tayangkan.
Kepala sekolah menjelaskan, dana sumbangan digunakan untuk pembangunan musholla dan toilet fasilitas . “Tahap kesatu meliputi peningkatan dan penyambungan fasilitas. Kami harapkan dukungan agar tahap ini segera selesai,” tambahnya.
Soejarno menegaskan, sekolah tidak menentukan nominal sumbangan. “Kami tidak menentukan nominal, semua disesuaikan kemampuan masing-masing. Yang terpenting adalah partisipasi dan dukungan,” jelasnya.
Kepala Sekolah juga menekankan transparansi pengelolaan dana. “Dana tidak hanya untuk fisik, tetapi juga peningkatan kualitas pendidikan, termasuk penataan lingkungan sekolah. Kami berkomitmen menggunakan dana sebaik mungkin demi kemajuan sekolah dan melibatkan komite sekolah dalam setiap keputusan,” tegasnya.
Sekolah juga memberikan perhatian khusus kepada siswa melalui program PIP. “Saat ini, yang menerima bantuan PIP. Kami berharap bantuan ini memotivasi mereka untuk terus belajar dan meraih cita-cita,” pungkasnya.
Menanggapi keluhan wali murid soejarno menjelaskan, “Sumbangan memang ada, namun nominal Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu bukanlah ketetapan sekolah, melainkan perhitungan RAB pembangunan musholla dan toilet. adalah estimasi waktu pembangunan, bukan batasan pembayaran.”
Soejarno menambahkan, sekolah tidak akan menagih wali murid yang sudah mengisi formulir. “Jika dalam formulir tertulis Rp100 ribu hingga 200 rb namun hanya mampu memberi Rp100 ribu, itu tidak masalah. Kami tidak akan menagih kekurangannya, hanya menghimbau jika ada rezeki lebih,” jelasnya.
(Red)










