Bandung — YUTELNEWS.com// Pemerintah Desa Padamukti, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, memilih tidak menunggu bencana datang. Di tengah meningkatnya intensitas hujan, desa ini justru bergerak lebih awal: menormalkan Sungai Cisunggalah bersama warga sebagai langkah mitigasi berbasis komunitas yang terukur dan berkelanjutan.
Langkah ini bukan tanpa konteks. Normalisasi dilakukan sebagai tindak lanjut atas kunjungan Bupati Bandung Dadang Supriatna ke lokasi banjir di Desa Panyadap (Solokanjeruk) dan Desa Bojong (Majalaya), setelah tanggul Sungai Cisunggalah jebol diterjang hujan deras beberapa waktu lalu.
Dipimpin langsung Kepala Desa Padamukti, Unang Rubaman, puluhan warga bersama unsur Linmas turun ke sungai selama sepekan terakhir.
Mereka menyisir aliran air, mengangkat endapan lumpur, membersihkan sampah rumah tangga, serta menyingkirkan material alami seperti ranting yang berpotensi menyumbat arus.
Bagi Pemdes Padamukti, ini bukan sekadar kerja bakti rutin. Ini adalah strategi mitigasi.
“Kami tidak ingin menunggu banjir datang baru bergerak. Normalisasi sungai ini bagian dari kesiapsiagaan. Aliran air harus tetap lancar agar risiko banjir bisa ditekan semaksimal mungkin,” tegas Unang, Minggu (29/3/2026).
Ia menyebut, keterlibatan warga menjadi faktor kunci. Selama proses normalisasi, sedikitnya 20 hingga 24 warga terlibat aktif setiap harinya, mencerminkan meningkatnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Namun, Unang juga menggarisbawahi persoalan yang lebih mendasar: perilaku.
“Faktor teknis seperti sedimentasi bisa ditangani. Tapi kalau kebiasaan membuang sampah ke sungai tidak berubah, potensi banjir akan selalu ada. Ini yang terus kami edukasi,” ujarnya.
Realitas di lapangan menunjukkan, penyumbatan aliran sungai akibat sampah dan sedimentasi masih menjadi pemicu utama luapan air saat hujan deras.
Karena itu, pendekatan yang diambil Padamukti tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial—mengubah pola pikir masyarakat terhadap sungai sebagai sumber kehidupan, bukan tempat pembuangan.
Di tengah meningkatnya ancaman cuaca ekstrem, model mitigasi berbasis partisipasi seperti ini mulai dilirik sebagai solusi efektif di tingkat lokal.
Selain menekan risiko bencana, gotong royong warga juga memperkuat kohesi sosial—modal penting dalam menghadapi krisis.
Pemerintah desa berharap, normalisasi Sungai Cisunggalah yang dilakukan secara berkala dapat menjadi contoh praktik baik penanganan lingkungan di daerah rawan banjir, sekaligus memastikan wilayah Padamukti tetap aman dan layak huni di tengah ketidakpastian musim.**
Yans.

















