Allah yang Hidup: Fondasi Iman dan Harapan Kita
Hari Rabu, Juni 2026, menandai sebuah perayaan penting dalam kalender liturgi Katolik, yaitu Perayaan Wajib Santo Karolus Lwanga dan para martir Uganda, Santa Klotilda, ratu yang membawa iman Kristiani, serta Santo Kevin Pengaku Iman, santo pelindung alam Irlandia. Hari ini, kita diajak untuk merenungkan tema mendalam: “Allah orang hidup”. Warna liturgi merah yang digunakan pada hari ini melambangkan keberanian dan pengorbanan para kudus yang akan kita peringati.
Renungan ini mengacu pada bacaan-bacaan liturgi yang memberikan landasan teologis dan spiritual untuk pemahaman kita tentang Allah sebagai sumber kehidupan yang tak terputus. Melalui Surat Paulus kepada Timotius dan Injil Markus, kita diajak untuk mengobarkan kembali karunia iman, memahami hakikat kebangkitan, dan bagaimana keyakinan ini membentuk kesaksian kita di dunia.
Bacaan Liturgi Rabu, Juni 2026
Untuk memahami lebih dalam tema renungan hari ini, mari kita simak bacaan-bacaan liturgi yang telah disiapkan:
-
Bacaan Pertama: 2 Timotius 1:1-3, 6-12
Paulus, seorang rasul Kristus Yesus berdasarkan kehendak Allah, menulis surat ini kepada Timotius, anak terkasihnya. Ia mendoakan kasih karunia, rahmat, dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus. Paulus mengucap syukur atas iman Timotius yang ia layani dengan hati nurani murni, seperti leluhurnya. Ia mengingatkan Timotius untuk mengobarkan kembali karunia Allah yang ada padanya melalui penumpangan tangan. Allah tidak memberikan roh ketakutan, melainkan roh kekuatan, kasih, dan ketertiban. Oleh karena itu, jangan malu bersaksi tentang Tuhan dan jangan malu atas penderitaan Paulus sebagai tahanan demi Injil. Paulus menegaskan bahwa Allah menyelamatkan dan memanggil kita bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri yang telah dianugerahkan dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman. Kebangkitan Yesus Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tak dapat binasa. Paulus, yang telah ditetapkan sebagai pemberita, rasul, dan guru Injil ini, menderita segalanya tanpa rasa malu, karena ia yakin kepada siapa ia percaya dan bahwa Allah berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan kepadanya hingga hari Tuhan.Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah. -
Mazmur Tanggapan: Mazmur 123:1-2a, 2bcd
Nyanyian ziarah ini mengungkapkan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. “Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di surga.” Seperti mata seorang hamba memandang kepada tuannya atau seorang hamba perempuan memandang kepada nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, hingga Ia mengasihani kita. -
Bait Pengantar Injil: Yohanes 11:25a, 26
“Akulah kebangkitan dan kehidupan. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tak akan mati.” -
Bacaan Injil: Markus 12:18-27
Sekelompok orang Saduki, yang tidak percaya pada kebangkitan, mendatangi Yesus dengan sebuah pertanyaan jebakan mengenai hukum Musa tentang perkawinan. Mereka mengajukan skenario hipotetis tentang tujuh saudara yang bergantian menikahi seorang wanita, di mana semuanya meninggal tanpa memiliki keturunan. Mereka bertanya, “Pada hari kebangkitan, siapakah yang akan menjadi suami wanita itu? Sebab ketujuh-tujuhnya telah beristerikan dia.”Yesus menjawab, “Kalian sesat, justru karena kalian tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab di masa kebangkitan orang mati, orang tidak kawin atau dikawinkan; mereka hidup seperti malaikat di surga.” Kemudian, Yesus merujuk pada kitab Musa, dalam kisah tentang semak berduri, di mana Allah berfirman kepada Musa, “Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Yesus menekankan, “Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik: “Allah Orang Hidup”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, salam damai dan sukacita bagi kita semua. Peringatan Santo Karolus Lwanga dan para syahid Uganda, Santa Klotilda, dan Santo Kevin Pengaku Iman, mengingatkan kita akan kekuatan iman yang teguh, bahkan hingga pengorbanan nyawa. Mereka adalah teladan nyata bagaimana iman kepada Kristus memberikan kekuatan luar biasa untuk menghadapi tekanan duniawi dan kebiadaban. Hari ini, kita merenungkan klaim Yesus yang sangat fundamental: bahwa Allah adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati. Kebenaran ini seharusnya menjadi pendorong bagi pewartaan dan kesaksian kita.
1. Mengobarkan Kembali Api Iman yang Diwariskan
Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus dengan penuh semangat mendorong Timotius untuk “mengobarkan karunia Allah” yang ada padanya. Ini menyiratkan bahwa iman, meskipun telah diwariskan, perlu terus dinyalakan dan dihidupkan. Iman bukanlah warisan pasif yang bisa dibiarkan redup. Paulus sendiri, meskipun menghadapi penderitaan dan persekusi, tetap teguh dalam keyakinannya. Ia tidak malu bersaksi tentang Injil, bahkan ia melihat penderitaan sebagai bagian dari panggilan menjadi pewarta yang setia.
Pesan ini relevan bagi kita hari ini. Siapakah yang mewariskan iman kepada kita? Orang tua, guru agama, para kudus? Bagaimana kita menjaga agar api iman itu tetap menyala dalam tindakan sehari-hari, dalam kesaksian hidup kita? Apakah kita hanya menerimanya tanpa upaya untuk menghidupkannya kembali melalui doa, perbuatan kasih, dan keberanian untuk bersaksi?
2. Allah Mengatasi Kematian: Hidup Sebagai Pusat Penghapan
Inti dari ajaran Yesus kepada kaum Saduki adalah penegasan bahwa “Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.” Pernyataan ini menempatkan kebangkitan sebagai pusat pengharapan Kristen. Jika Allah adalah Allah orang hidup, maka kematian fisik bukanlah akhir dari segalanya. Hubungan kita dengan-Nya tidak terputus oleh maut. Ini memberikan keberanian luar biasa dalam menghadapi berbagai ancaman, penderitaan, dan ketakutan akan kematian.
Pertanyaan refleksi bagi kita adalah: Bagaimana keyakinan akan kebangkitan membentuk sikap kita terhadap penderitaan, kehilangan, dan ketakutan akan kematian? Apakah kita hidup seolah-olah kematian adalah akhir dari segalanya, ataukah kita hidup dengan keyakinan bahwa ada kehidupan abadi bersama Allah yang telah mengalahkan maut?
3. Kesaksian yang Berani di Tengah Ancaman
Para martir seperti Santo Karolus Lwanga dan teman-temannya menunjukkan kepada kita apa artinya memiliki kesaksian yang teguh di tengah ancaman. Iman yang yakin pada Allah yang hidup memberikan mereka kekuatan untuk menolak kompromi dosa, bahkan ketika menghadapi risiko tertinggi, yaitu kehilangan nyawa.
Kita dipanggil untuk berani bersaksi agar hidup kita mencerminkan bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup. Di area kehidupan mana kita dipanggil untuk menunjukkan keberanian ini? Apakah dalam keluarga, di tempat kerja, di lingkungan sosial kita? Kesaksian kita bukan hanya dalam kata-kata, tetapi terutama dalam tindakan nyata yang mencerminkan kasih dan kebenaran Kristus.
Pesan Utama untuk Kita
Saudara-saudari terkasih,
Pesan yang dapat kita bawa pulang hari ini adalah:
- Allah adalah Allah orang hidup. Kebangkitan Kristus adalah fondasi pengharapan kita yang paling kokoh.
- Iman yang diwariskan perlu terus dinyalakan kembali dan diwujudkan dalam keberanian untuk mewartakan dan bersaksi tentang Injil.
- Kesetiaan sampai akhir, seperti para martir, adalah bukti nyata bahwa iman kepada Allah yang hidup mampu mengatasi segala ancaman dan ketakutan.
Semoga Tuhan memberkati kita agar kita senantiasa hidup sebagai saksi-Nya yang setia.













