Kolong Bekas Tambang Timah: Ancaman Tersembunyi di Balik Keindahan Bangka Belitung?
Di Bangka Belitung, hamparan kolong bekas tambang timah menjadi pemandangan yang tak asing lagi. Danau-danau buatan ini, dengan airnya yang tenang memantulkan langit biru dan pepohonan di sekelilingnya, seringkali terlihat memesona. Namun, di balik keindahannya, muncul pertanyaan serius: adakah kaitan antara keberadaan kolong-kolong ini dengan meningkatnya kasus malaria di wilayah tersebut?
Seorang anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Bangka Barat, Muhammad Putra Kusuma, memberikan pandangannya. Ia menilai bahwa secara epidemiologis, hubungan antara kolong bekas tambang dan peningkatan risiko penularan malaria cukup kuat dan signifikan.
“Secara epidemiologis, keberadaan kolong bekas tambang timah memiliki hubungan yang cukup kuat, dan signifikan terhadap peningkatan risiko penularan malaria,” ujar Putra. “Terutama bila kolong tidak direklamasi dan berada dekat permukiman atau lokasi aktivitas tambang masyarakat.”
Putra menjelaskan bahwa kolong bukanlah satu-satunya penyebab, namun ia dapat menciptakan ekosistem yang sangat ideal bagi nyamuk Anopheles, vektor utama malaria, untuk berkembang biak. Berdasarkan berbagai kajian epidemiologi lingkungan dan entomologi kesehatan, genangan air di kolong bekas tambang memiliki karakteristik yang mendukung perkembangbiakan nyamuk tersebut. Tingkat kesesuaian ini memang bisa bervariasi tergantung pada kondisi fisik, kimia, dan biologis kolong itu sendiri.
Dalam ilmu epidemiologi, habitat larva merupakan salah satu mata rantai krusial dalam siklus penularan malaria. Kolong bekas tambang ini, menurut Putra, termasuk dalam kategori man-made breeding site atau habitat buatan manusia yang terbentuk akibat perubahan lingkungan akibat aktivitas pertambangan. Wilayah yang berdekatan dengan kolong umumnya menunjukkan pola penularan malaria yang lebih tinggi dan lebih persisten dibandingkan dengan wilayah yang tidak memiliki kolong.
Perspektif Berbeda dari Dinas ESDM
Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya disepakati oleh semua pihak. Kabid Pertambangan Mineral Logam Dinas ESDM Provinsi Bangka Belitung, Erpan Muchtedi, menyampaikan pandangan yang sedikit berbeda.
“Kolong-kolong itu, tidak semua bagian kolong yang mungkin jadi habitat hidup dari larva nyamuk Anopheles,” kata Erpan Muchtedi.
Menurut Erpan, bagian tengah kolong yang terbuka dan terus terpapar sinar matahari justru kurang mendukung perkembangan larva nyamuk.
“Bagian tengah tidak memenuhi syarat untuk hidupnya, paling bagian pinggir vegetasinya sudah menjadi tertutup dari matahari, menjadi habitatnya. Tidak semua bagian kolong itu. Menjadi habitat nyamuk Anopheles,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa habitat larva nyamuk dapat ditemukan di berbagai tempat lain, tidak hanya di kolong bekas tambang. Rawa-rawa maupun tepian sungai juga bisa menjadi tempat perkembangbiakan yang potensial bagi larva Anopheles.
“Penyebab lain bisa jadi seperti pinggir sungai sungai bisa jadi habitat hidupnya, dan rawa rawa itu juga bisa menjadi habitat hidup terhadap larva Anopheles ini. Mungkin perlu digaris bawahi, artinya bisa jadi kolong itu menjadi berdampak penyebaran nyamuk, tetapi bukan satu satunya,” tegas Erpan.
Perlunya Penelitian Komprehensif
Mengingat adanya perbedaan pandangan ini, Erpan menekankan pentingnya penelitian yang lebih komprehensif untuk memahami secara akurat hubungan antara kolong bekas tambang dan peningkatan kasus malaria.
“Untuk mengetahui apakah daerah yang memiliki kolong lebih rentan menjadi endemik malaria dibandingkan wilayah yang tidak memiliki kolong,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap kesimpulan harus didasarkan pada data dan penelitian yang memadai, bukan sekadar asumsi atau pendapat tanpa dasar ilmiah yang kuat.
“Jadi perlu dikaji, baru bisa menyimpulkan, dia tidak semacam pendampat atau asumsi tanpa ada penelitian di situ ada pembanding,” terangnya.
Sebagai perbandingan, Erpan mencontohkan kasus malaria di Papua. Wilayah ini masih menghadapi persoalan malaria yang signifikan meskipun tidak seluruhnya memiliki aktivitas pertambangan atau kolong bekas tambang.
“Karena kita tahu malaria ini menjadi masalah juga di Papua. Tidak semua Papua daerah tambang yang memiliki kolong bekas tambangnya, tapi ada tidak ada tambang, malaria lumayan menjadi masalah. Itu pembandingnya,” katanya, menunjukkan bahwa malaria adalah masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Oleh karena itu, diperlukan kajian mendalam yang melibatkan para ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk dapat memberikan gambaran yang utuh mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus malaria di Bangka Belitung, serta merumuskan solusi yang efektif.










