YUTELNEWS.com | Kab. Bandung Barat – Tumpukan karung beras terlihat berjajar di halaman Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Di tengah aktivitas penyaluran, warga datang satu per satu untuk menerima bantuan pangan yang diharapkan dapat meringankan kebutuhan keluarga. Jum’at, (11/9/2026).
Bagi sebagian masyarakat, 10 kilogram beras mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari, bantuan tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar: sedikit ruang untuk bernapas di tengah kebutuhan hidup yang terus berjalan.
Penyaluran bantuan pangan tahun 2026 itu dilakukan Perum Bulog untuk alokasi tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September. Setiap penerima memperoleh 10 kilogram beras untuk setiap alokasi, sehingga jika diterima penuh selama tiga bulan, total bantuan mencapai 30 kilogram.
Pimpinan Cabang Perum Bulog Bandung, Yanto Nurdiyanto, mengatakan program tersebut merupakan penugasan pemerintah yang harus dipastikan sampai kepada masyarakat yang memang membutuhkan.

“Bulog sedang ditugaskan untuk penyaluran bantuan pangan alokasi tiga bulan, Juli, Agustus, September. Salah satunya kegiatan di Desa Sukatani ini,” ujar Yanto.
Penyaluran di Desa Sukatani juga mendapat perhatian dari Komisi IV DPR RI yang hadir untuk melihat langsung pelaksanaan program. Monitoring dilakukan bukan hanya untuk memastikan bantuan tersalurkan, tetapi juga melihat apakah manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Dalam rangka memonitoring apakah program ini tepat sasaran, manfaatnya dirasakan masyarakat, dan apakah kegiatan ini berlangsung lancar,” katanya.
Ada 598 Warga yang Menerima
Yanto menyebut, berdasarkan data yang dimilikinya, terdapat sekitar 598 penerima bantuan pangan di Desa Sukatani.
Data penerima berasal dari Kementerian Sosial dan tetap melalui proses verifikasi. Pemerintah, kata Yanto, terus berupaya memastikan bantuan tidak salah sasaran dan benar-benar diterima oleh masyarakat yang memenuhi kriteria.
“Bulog menerima data dari Kementerian Sosial. Data itu tetap diverifikasi, apalagi saat ini menggunakan dasar desil,” jelasnya.
Bagi warga penerima, proses tersebut tentu bukan sekadar persoalan administrasi. Di balik setiap nama dalam daftar penerima, ada keluarga yang berharap bantuan pemerintah bisa sedikit mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan dapur.
Karena itu, Yanto berharap seluruh beras yang telah dialokasikan dapat tersalurkan kepada masyarakat.
“Harapan kami bantuan pangan ini bisa dirasakan oleh masyarakat dan sedikitnya membantu dari sisi kebutuhan pangan pokoknya,” tuturnya.
Pemerintah Hadir Lewat Bantuan yang Nyata
Penyaluran bantuan pangan di Desa Sukatani menjadi salah satu gambaran bagaimana program pemerintah hadir dalam kehidupan masyarakat melalui kebutuhan yang paling mendasar: pangan.
Selain Kecamatan Ngamprah, penyaluran bantuan juga mencakup Kecamatan Bojongsoang. Bulog memastikan alokasi untuk wilayah tersebut telah dipersiapkan sesuai penugasan.
Yanto berharap bantuan pangan tidak berhenti sebagai program sesaat. Menurutnya, keberlanjutan bantuan akan sangat berarti bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Harapannya penugasan ini menjadi penugasan yang baik oleh pemerintah kepada masyarakat yang memang kurang mampu. Salah satunya bisa meringankan kebutuhan pokok,” katanya.
Pada akhirnya, bantuan 10 kilogram beras bukan hanya soal jumlah yang diterima. Bagi keluarga penerima, beras itu bisa berarti beberapa hari kebutuhan dapur yang lebih ringan, pengeluaran yang sedikit berkurang, dan kekhawatiran yang sedikit tersisihkan.
Itulah harapan sederhana dari program bantuan pangan: agar tidak ada keluarga yang harus terlalu lama cemas memikirkan apa yang akan dimasak untuk makan esok hari.
Dien Yoyo

