Pentingnya Tutur Kata yang Baik dalam Ajaran Islam
Setiap Muslim yang telah mencapai usia balig dan memenuhi syarat wajib melaksanakan salat Jumat. Pelaksanaan ibadah ini merupakan kewajiban mingguan yang memiliki kedudukan penting dalam syariat Islam. Bagi umat yang bertugas sebagai khatib, atau bahkan yang harus menggantikan khatib secara mendadak karena berhalangan, ketersediaan referensi teks khutbah sangatlah membantu.
Tersedia contoh naskah khutbah Jumat yang dapat dijadikan panduan. Naskah ini disusun oleh seorang alumni UIN Jakarta dan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat, Amien Nurhakim. Materi khutbah ini telah dipublikasikan secara resmi sebagai bahan rujukan bagi para khatib dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada jamaah.
Khutbah I: Menjaga Lisan sebagai Cerminan Ketakwaan
-
Pengantar dan Ajakan Bertakwa
Khutbah diawali dengan pujian kepada Allah SWT, pengakuan atas nikmat-Nya, dan kesaksian keesaan-Nya serta kerasulan Nabi Muhammad SAW. Khatib senantiasa mengingatkan jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan adalah kunci kemuliaan di sisi Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13:
> “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” -
Islam sebagai Rahmat dan Keindahan Berkata-kata
Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan, termasuk sesama manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Salah satu bentuk kasih sayang yang ditekankan dalam ajaran Islam adalah berkata-kata yang baik. Perkataan yang baik merupakan perbuatan terpuji yang mendatangkan kebaikan dan dapat meninggikan derajat seseorang, baik di hadapan Allah maupun di tengah masyarakat. -
Perintah Berkata Baik dalam Al-Qur’an
Allah SWT secara eksplisit memerintahkan umat-Nya untuk senantiasa mengucapkan perkataan yang baik. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 83, Allah berfirman:
> “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”Allah juga menjanjikan surga bagi orang-orang beriman yang beramal saleh. Mereka yang diberi petunjuk untuk mengucapkan ucapan-ucapan yang baik akan ditunjuki kepada jalan Allah yang terpuji, sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Hajj ayat 24:
“Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.”
Lebih lanjut, dalam surat Al-Isra’ ayat 53, Allah menegaskan pentingnya berkata baik kepada sesama, baik kepada sesama Muslim maupun non-Muslim, seraya mengingatkan akan peran setan yang selalu berusaha menimbulkan perselisihan di antara manusia:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
-
Adab Berbicara dan Konsekuensinya
Ayat-ayat tersebut menjadi pengingat penting bagi kita untuk menjaga lisan. Hendaknya yang keluar dari mulut kita adalah kebaikan. Jika tidak mampu berkata baik, maka lebih utama untuk diam. Perkataan yang buruk dapat menyakiti hati orang lain, menimbulkan kekacauan dalam masyarakat, dan merusak hubungan harmonis.Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
“Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.”
Berlebihan dalam berbicara dapat menyebabkan ucapan tidak tersaring dan akhirnya melukai orang lain, menimbulkan kerusakan, serta penyakit hati bagi diri sendiri maupun pendengarnya. Perkataan yang tidak baik merupakan akhlak tercela yang dapat menimbulkan kebencian. Imam al-Lu’lui dalam syair Adabut Thalab mengingatkan:
“Dalam banyaknya bicara dapat menimbulkan sebagian kebencian.”
-
Pentingnya Berpikir Sebelum Berbicara
Imam al-Nawawi menasihati agar setiap individu yang hendak berbicara hendaknya merenungkan terlebih dahulu apa yang akan diucapkan. Jika ucapannya mengandung kebaikan (maslahat), maka silakan diucapkan. Namun, jika tidak, maka lebih baik menahan diri. -
Menjauhi Neraka dengan Tutur Kata Baik
Nabi Muhammad SAW sangat peduli terhadap umatnya dan ingin menyelamatkan mereka dari siksa neraka. Salah satu cara yang diajarkan untuk menjauhi neraka adalah dengan bersedekah, meskipun hanya sepotong kurma. Jika tidak mampu, maka dengan tutur kata yang baik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
> “Jauhilah neraka meski dengan [bersedekah] sepotong kurma, jika tidak melakukannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan tutur kata yang baik.” -
Ciri Orang Beriman
Jamaah diingatkan untuk menjadi pribadi yang baik dalam perilaku maupun tutur kata. Orang yang beriman sejati bukanlah mereka yang suka mencela atau mengutuk, sesuai dengan sabda Nabi SAW:
> “Orang yang beriman bukanlah orang yang suka mencela dan mengutuk.”Doa penutup khutbah pertama ini memohon keberkahan dari Al-Qur’an dan ampunan dari Allah SWT.
Khutbah II: Doa dan Ajakan Kebaikan
-
Pembukaan dan Penguatan Takwa
Khutbah kedua diawali dengan pujian kepada Allah SWT dan kesaksian atas keesaan-Nya serta kerasulan Nabi Muhammad SAW. Khatib kembali mengingatkan jamaah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT, karena sesungguhnya orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang beruntung. -
Salawat dan Doa untuk Umat
Selanjutnya, khutbah mengutip firman Allah SWT mengenai perintah untuk bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Khatib mendoakan ampunan bagi seluruh kaum mukminin dan mukminat, serta muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. -
Doa untuk Bangsa dan Negara
Doa juga dipanjatkan agar Allah SWT senantiasa melindungi Indonesia dan seluruh negeri-negeri Muslim dari berbagai macam bala, wabah, bencana, musibah, fitnah, dan segala keburukan yang tampak maupun tersembunyi. -
Permohonan Taufik dan Perlindungan
Khatib memohon kepada Allah SWT agar ditunjukkan jalan kebenaran dan diberi kemampuan untuk mengikutinya, serta ditunjukkan jalan kebatilan dan diberi kemampuan untuk menjauhinya. Doa juga mencakup permohonan kebaikan di dunia dan di akhirat, serta dijauhkan dari siksa api neraka. -
Ajakan Berbuat Adil dan Berbuat Baik
Bagian akhir khutbah kedua berisi ajakan kepada seluruh hamba Allah untuk senantiasa berbuat adil, berbuat baik, dan memberikan santunan kepada kerabat. Allah SWT melarang perbuatan keji, mungkar, dan aniaya. Jamaah diingatkan untuk senantiasa mengingat Allah agar diingat oleh-Nya, mensyukuri nikmat-Nya agar ditambah, dan menyadari bahwa zikir kepada Allah adalah hal yang paling besar.
Dengan demikian, teks khutbah ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan teknis bagi khatib, tetapi juga mengandung pesan-pesan moral dan spiritual yang mendalam mengenai pentingnya menjaga lisan, meningkatkan ketakwaan, dan berbuat baik kepada sesama, yang merupakan inti dari ajaran Islam.










