Bandung – YUTELNEWS.com// Tradisi silaturahmi pasca-Idulfitri kembali memperlihatkan kekuatannya dalam menyatukan masyarakat. Hal itu tampak jelas dalam gelaran open house yang diselenggarakan tokoh masyarakat sekaligus pembina Prima, H. Tri Rahmanto, di kediamannya di kawasan Lamajang Pentas, Desa Citeurep, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Minggu (22/03/2026).
Sejak pagi hingga siang hari, arus kedatangan tamu tidak pernah surut. Ratusan hingga mendekati ribuan warga dari berbagai latar belakang memadati lokasi.
Mulai dari tokoh masyarakat, pelaku usaha, insan pers, hingga warga sekitar hadir dalam suasana penuh kehangatan dan keakraban.
Open house ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam suasana yang cair dan egaliter.
Tanpa sekat, semua tamu disambut hangat, mencerminkan nilai keterbukaan dan kebersamaan yang terus dijaga.
“Open house ini bukan hanya tradisi, tetapi juga bentuk rasa syukur kami sekaligus ruang untuk mempererat hubungan dengan masyarakat tanpa batas. Kebersamaan seperti inilah yang harus terus dirawat,” ujar H. Tri Rahmanto.
Kehadiran insan pers dalam kegiatan tersebut turut memperkuat sinergi antara tokoh masyarakat dan media. Interaksi yang terjalin menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi publik yang sehat dan konstruktif.
Tak hanya menjadi ajang temu kangen, kegiatan ini juga berkembang menjadi ruang dialog informal. Sejumlah tamu terlihat memanfaatkan momentum tersebut untuk berdiskusi ringan hingga membahas isu-isu sosial di lingkungan sekitar.
Suasana Lebaran semakin terasa dengan sajian khas yang disuguhkan kepada para tamu. Namun lebih dari itu, nilai utama yang mencuat adalah semangat kebersamaan, inklusivitas, serta kepedulian sosial yang kian menguat.
Di tengah dinamika kehidupan modern, kegiatan seperti ini memiliki makna strategis dalam menjaga kohesi sosial. Terlebih di wilayah Dayeuhkolot yang dikenal dengan keberagaman masyarakatnya.
Open house yang digelar H. Tri Rahmanto menjadi bukti nyata bahwa peran tokoh masyarakat tidak hanya hadir dalam ruang formal, tetapi juga aktif membangun kedekatan emosional dengan warga.
Momentum ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan terus tumbuh menjadi budaya sosial yang memperkuat persatuan dan harmoni masyarakat di Kabupaten Bandung.
(Yans)


















