YUTELNEWS.com
Natuna, Kepulauan Riau
Harga kelapa di beberapa kecamatan di Kabupaten Natuna, termasuk di Kecamatan Subi mengalami penurunan tajam pada Selasa, 27 Januari 2026, setelah sebelumnya masyarakat petani melakukan pembersihan lahan dan perawatan kebun kelapa secara intensif. Harga yang sebelumnya sekitar Rp 4.500 per butir kini anjlok menjadi sekitar Rp 2.500 per butir, menyebabkan pendapatan petani kelapa turun drastis dalam waktu singkat.
Para petani mengaku prihatin, karena mereka sudah mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya untuk membersihkan lahan serta merawat tanaman kelapa demi mendapatkan produksi yang baik. Namun justru harga jual buah kelapa di pasaran lokal turun drastis begitu panen mulai banyak tersedia. Kondisi ini membuat banyak petani mempertanyakan ikuti rencana produksi tetapi harga pasar tidak stabil dan tidak menjamin keuntungan.
Penyebab Penurunan Harga
Berdasarkan analisis pasar dan kondisi umum komoditas kelapa, beberapa faktor yang memungkinkan memengaruhi turunnya harga secara tiba-tiba adalah:
Kelebihan Pasokan Lokal
Saat panen berjalan, jumlah buah yang masuk ke pasar bisa jauh lebih banyak daripada kebutuhan lokal. Ketika pasokan melimpah sementara permintaan tetap, harga otomatis turun. Ini sering terjadi pada pasar lokal yang tidak punya akses distribusi besar ke luar daerah.
Distribusi & Akses Pasar Terbatas
Natuna sebagai wilayah kepulauan memiliki tantangan distribusi yang besar — akses ke pasar besar atau luar Pulau Kalimantan/Kepri sering terbatas dan memakan biaya tinggi. Akibatnya, kelapa yang diproduksi tidak terserap pasar besar sehingga harga lokal lebih rendah.
Kurangnya Rantai Pengolahan dan Hilirisasi
Jika kelapa mentah diolah lebih lanjut menjadi produk bernilai tambah (seperti minyak kelapa, santan, VCO), pendapatan bagi petani bisa lebih baik. Kekurangan fasilitas atau dukungan hilirisasi membuat petani hanya menjual buah mentah yang rentan pada fluktuasi harga dasar.
Kondisi Permintaan Eksternal
Pada kondisi lain di beberapa daerah, permintaan tinggi dari luar negeri atau domestik bisa membuat harga melonjak. Namun hal ini belum tentu merata di semua daerah, termasuk Natuna di mana permintaan ekspor belum optimal terhubung.
Dampak pada Petani dan Masyarakat
Petani kelapa di Natuna kini mengalami beberapa dampak langsung, antara lain:
Pendapatan turun sementara biaya produksi meningkat karena perawatan lahan.
Ketidakpastian ekonomi pada masyarakat petani yang sudah berinvestasi tenaga dan modal untuk panen.
Peluang peralihan usaha karena kelapa tidak lagi memberi laba yang cukup.
Tuntutan dan Harapan dari Pemerintah
Para petani dan kelompok tani kini meminta pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, untuk mengambil langkah konkret dalam menstabilkan harga dan membantu mekanisme pasar kelapa:
Fasilitasi akses pasar yang lebih luas — termasuk penghubung ke pasar provinsi atau nasional yang bisa menyerap pasokan kelapa Natuna.
Dukungan hilirisasi dan pengolahan lokal — seperti fasilitas pembuatan santan, minyak kelapa, atau produk lain agar nilai tambah bisa dinikmati petani.
Program penjaminan harga atau intervensi pasar saat terjadi anjlok drastis sehingga petani tidak dirugikan.
Penyusunan kebijakan komoditas lokal untuk komoditas pertanian yang sangat penting bagi ekonomi masyarakat pesisir dan kepulauan.
Para petani berharap koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Natuna, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, dan Kementerian Pertanian RI segera dilakukan supaya kondisi harga kelapa menjadi lebih stabil dan hasil kerja keras petani tidak sia-sia.
{Bani}























