YUTELNEWS.com | Sukabumi ,Gelombang ketidakpuasan warga Desa Warnajati, Kecamatan Cibadak, kian memuncak. Rekrutmen pegawai MBG (Mitra BGN) yang semestinya menjadi peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, justru menuai sorotan tajam. Minggu ( 26/4/2026 )
Warga menilai proses seleksi berlangsung tidak transparan dan diduga kuat sarat praktik “titipan” hingga nepotisme.
Dalam forum warga yang digelar belum lama ini, sejumlah perwakilan masyarakat, termasuk Nandang, menyampaikan kekecewaan mereka secara terbuka. Salah satu warga mengungkapkan adanya informasi yang beredar terkait peluang “titip orang” agar dapat lolos seleksi.
“Kalau memang ada rekrutmen, harus jelas kriterianya. Apa yang dinilai? Kemampuan memasak, kejujuran, atau apa? Jangan sampai warga hanya dijadikan formalitas,” ujarnya dengan nada kecewa.
Kekecewaan warga semakin bertambah karena mereka mengaku tidak pernah bertemu langsung dengan pihak MBG selama proses seleksi berlangsung. Hal ini memunculkan kesan bahwa proses berjalan tertutup dan tidak akuntabel.
Bahkan, hasil pengumuman dinilai terkesan terburu-buru dan tidak disertai penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Kecurigaan kian menguat setelah diketahui sejumlah peserta yang dinyatakan lolos justru berasal dari luar wilayah, seperti Peundeuy hingga Kalabang.
Sementara itu, masih banyak warga lokal yang merasa memenuhi kriteria namun tidak diterima.
“Seharusnya warga sekitar diprioritaskan. Ini program untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat, tapi malah orang luar yang masuk,” tegas warga lainnya.
Selain itu, warga juga mempertanyakan mekanisme wawancara.
Mereka meragukan apakah benar dilakukan uji kemampuan, seperti keterampilan memasak atau pekerjaan dapur lainnya, atau hanya sekadar formalitas.
Sejumlah warga bahkan menilai pengelolaan MBG terkesan seperti “milik pribadi”, bukan bagian dari program yang dijalankan secara profesional dan terbuka. Dugaan adanya tindakan sewenang-wenang dalam proses rekrutmen pun mencuat.
Atas kondisi tersebut, warga Desa Warnajati menyatakan sikap tegas dengan meminta proses rekrutmen dihentikan sementara hingga ada klarifikasi terbuka dari pihak terkait.
“Kami minta jangan ada kelulusan dulu sebelum semuanya jelas. Selesaikan dulu dengan warga. Ini menyangkut hak masyarakat setempat,” tegas perwakilan warga.
Warga juga menyoroti peran pihak SPPG dan yayasan terkait yang dinilai kurang transparan, padahal mereka yang mengundang warga dalam kegiatan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi1 dari pihak MBG maupun instansi terkait. Namun satu hal yang pasti, suara warga 1Warnajati kini semakin lantang: mereka menuntut keadilan, transparansi, serta prioritas bagi masyarakat lokal sesuai tujuan awal program.
Reporter : Mirna
( Kabiro Sukabumi )

















