YUTELNEWS.com / Kondisi memprihatinkan tengah dirasakan para petani di Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Harapan untuk mengairi sawah justru berubah menjadi kekecewaan akibat saluran irigasi yang tak kunjung diperbaiki oleh Dinas Pertanian setempat.
Padahal, masyarakat di sejumlah desa telah menunjukkan itikad baik dan semangat gotong royong dengan mengumpulkan dana hingga Rp10 juta per desa. Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki saluran utama Krueng Lancang yang mengalir hingga ke Krueng Kuala Pasee Blang Mee, sebagai upaya menghidupkan kembali aliran air ke persawahan.
Namun ironisnya, meski saluran utama telah diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat, saluran lanjutan yang menjadi tanggung jawab pemerintah justru terbengkalai hampir satu tahun lamanya. Akibatnya, air tak kunjung mengalir ke sawah-sawah warga yang kini mulai mengering dan terancam gagal panen.
Advokat muda, Riki Iswandi, menyampaikan kegeramannya terhadap kondisi tersebut. Ia menilai adanya kelalaian serius dari Dinas Pertanian Aceh Utara dalam merespons kebutuhan mendesak masyarakat petani.
“Ini sangat memprihatinkan. Masyarakat sudah berkorban, mengumpulkan dana sendiri untuk memperbaiki saluran utama. Tapi pemerintah justru terkesan tutup mata. Hampir satu tahun saluran tak diperbaiki, sawah-sawah kering, petani dirugikan,” tegas Riki.
Ia juga meminta agar pihak terkait tidak hanya hadir dalam program seremonial semata, tetapi benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat, khususnya petani yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah.
Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya petani yang merugi, tetapi juga berdampak pada perekonomian daerah secara keseluruhan. /*










