Prakiraan Cuaca Jawa Tengah Juni 2026: Hujan Ringan Mendominasi, Waspada Peralihan Musim
Semarang – Memasuki awal Juni 2026, sebagian besar wilayah Jawa Tengah diprediksi akan diliputi hujan ringan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang memperkirakan hujan ringan akan menjadi fenomena cuaca yang paling umum terjadi di 7 kabupaten/kota. Sementara itu, delapan wilayah lainnya diprediksi akan menikmati cuaca cerah berawan. Kondisi ini menandakan adanya peralihan menuju musim kemarau, sehingga masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri.
Agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu oleh perubahan cuaca, penting untuk mengetahui prediksi cuaca yang lebih rinci. Berikut adalah rincian prakiraan cuaca untuk Jawa Tengah pada Kamis, Juni 2026:
Wilayah Berpotensi Hujan Ringan:
- Banjarnegara
- Banyumas
- Batang
- Boyolali
- Brebes
- Cilacap
- Karanganyar
- Kebumen
- Kendal
- Klaten
- Kota Magelang
- Kota Pekalongan
- Kota Salatiga
- Kota Semarang
- Kota Tegal
- Magelang
- Pekalongan
- Pemalang
- Purbalingga
- Purworejo
- Semarang
- Sragen
- Sukoharjo
- Tegal
- Temanggung
- Wonogiri
- Wonosobo
Wilayah Berpotensi Cerah Berawan:
- Blora
- Demak
- Grobogan
- Jepara
- Kota Surakarta
- Kudus
- Pati
- Rembang
Secara umum, suhu udara di Jawa Tengah diperkirakan akan berkisar antara 12 hingga 33 derajat Celsius. Kecepatan angin diprediksi relatif tenang, rata-rata antara 5 hingga 10 kilometer per jam.
Puncak Kemarau dan Kesiapan Air Bersih di Jawa Tengah
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Jawa Tengah akan terjadi pada bulan Agustus hingga September 2026. Menanggapi potensi kekeringan yang mungkin timbul, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan persiapan matang dengan menyediakan 123 juta liter air bersih. Air ini dialokasikan untuk 18 kabupaten/kota yang dianggap berpotensi terdampak bencana kekeringan.
Namun, distribusi air bersih ini diperkirakan akan menghadapi tantangan akibat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan bahwa meskipun ketersediaan air bersih sudah siap didistribusikan dan pemetaan area distribusi telah dilakukan, biaya operasional distribusi masih dalam kajian.
“Kami masih melakukan kajian dan penghitungan terkait biaya distribusi mengingat adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi,” jelas Bergas dalam rapat koordinasi pengendalian operasional kegiatan (POK) triwulan I-2026 di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang.
Bergas juga menambahkan bahwa berdasarkan informasi dari BMKG, pengaruh fenomena El Niño pada tahun 2026 diprediksi akan menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang di Jawa Tengah. Ancaman kekeringan tahun ini diperkirakan tidak jauh berbeda dengan puncak kemarau ekstrem yang terjadi pada tahun 2019 dan 2023.
“Kemarau mulai terjadi di Jawa Tengah pada Juni mendatang,” ungkapnya, menegaskan urgensi persiapan menghadapi musim kemarau.
Distribusi Stok Air Bersih:
BPBD Jawa Tengah telah merinci ketersediaan stok air bersih di berbagai daerah:
- Klaten: Menjadi daerah dengan stok air bersih terbanyak, mencapai 57,6 juta liter.
- Boyolali: Memiliki cadangan 13,4 juta liter.
- Kabupaten Semarang: Siap mendistribusikan 12,9 juta liter.
- Blora: Memiliki stok 5,1 juta liter.
- Purworejo: Menyediakan 5,06 juta liter.
- Wonosobo: Memiliki cadangan 5 juta liter.
- Purbalingga: Siap mendistribusikan 4,4 juta liter.
- Wonogiri: Memiliki stok 3,7 juta liter.
- Banjarnegara: Menyediakan 3,6 juta liter.
- Grobogan: Memiliki cadangan 3,1 juta liter.
Di sisi lain, beberapa daerah melaporkan ketersediaan air yang lebih rendah:
- Batang: Hanya memiliki 331 ribu liter.
- Kota Salatiga: Memiliki stok 250 ribu liter.
- Demak: Menyediakan 150 ribu liter.
- Kabupaten Pekalongan: Hanya memiliki 80 ribu liter.
Terdapat pula beberapa daerah yang tidak melaporkan ketersediaan airnya karena merasa tidak pernah terdampak kekeringan, seperti Kota Solo dan Kota Magelang.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Mitigasi Kekeringan
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa penanganan masalah kekeringan akan dilakukan secara bersama-sama dan melibatkan berbagai pihak, termasuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
“Kami akan koordinasikan lagi termasuk dengan beberapa pelibatan BUMD juga akan kami kondisikan agar dampak kemarau bisa dikurangi termasuk dampak ke swasembada pangan,” ujar Gubernur Luthfi.
Kolaborasi ini diharapkan dapat meminimalkan dampak kekeringan, tidak hanya pada ketersediaan air bersih tetapi juga pada sektor pertanian dan ketahanan pangan di Jawa Tengah.






