Gempa Magnitudo 3,0 Guncang Laut Barat Daya Malang
Pada Rabu pagi, Juni 2026, wilayah perairan di barat daya Kabupaten Malang, Jawa Timur, diguncang oleh gempa bumi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa ini memiliki magnitudo 3,0 dan terjadi pada pukul 05.28 WIB. Pusat gempa tercatat berada pada koordinat 8,80 Lintang Selatan (LS) dan 112,43 Bujur Timur (BT), dengan kedalaman 87 kilometer di bawah permukaan laut.
Gempa yang berpusat di laut ini memiliki karakteristik yang penting untuk dipahami. BMKG, sebagai lembaga pemerintah non-kementerian yang bertanggung jawab atas pengamatan dan analisis cuaca, iklim, serta geofisika, secara rutin merilis informasi terkini mengenai aktivitas seismik. Informasi mengenai gempa ini dapat dipantau melalui kanal-kanal resmi BMKG untuk mendapatkan data yang paling akurat dan terkini.
Kabupaten Malang sendiri merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki kedekatan geografis dengan beberapa kota besar. Jarak dari pusat Kabupaten Malang menuju Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur, diperkirakan mencapai sekitar 124 kilometer jika ditempuh melalui jalur Tol Pandaan-Malang. Waktu tempuh ini biasanya berkisar antara dua hingga dua setengah jam, tergantung pada kondisi lalu lintas dan jenis transportasi yang digunakan.
Memahami Magnitudo dan Kedalaman Gempa
Magnitudo gempa adalah ukuran kuantitatif dari besarnya energi yang dilepaskan oleh sumber gempa di dalam bumi. Pengukuran ini dilakukan secara ilmiah menggunakan instrumen yang disebut seismograf, yang mampu mendeteksi dan mencatat getaran bumi. Semakin besar nilai magnitudo, semakin besar pula energi yang dilepaskan dan potensi dampaknya.
Sementara itu, kedalaman gempa juga menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa luas dan kuat getaran yang dirasakan di permukaan. Gempa dengan kedalaman yang dangkal umumnya akan terasa lebih kuat di permukaan dibandingkan gempa dengan kedalaman yang sama namun memiliki magnitudo yang lebih kecil. Dalam kasus gempa di barat daya Malang ini, kedalaman 87 kilometer dikategorikan sebagai gempa menengah.
Informasi detail yang dirilis oleh BMKG melalui akun media sosial resminya di X (@infoBMKG) mencatat gempa ini dengan detail sebagai berikut: “#Gempa Mag:3.0, 03-Jun-2026 05:28:01WIB, Lok:8.80LS, 112.43BT (75 km BaratDaya KAB-MALANG-JATIM), Kedlmn:87 Km #BMKG”. BMKG juga menyertakan disclaimer bahwa informasi ini mengutamakan kecepatan penyampaian, sehingga hasil pengolahan data masih dapat berubah seiring dengan kelengkapan data yang diterima.
Skala MMI: Mengukur Dampak Getaran Gempa
Untuk memahami bagaimana getaran gempa dirasakan oleh manusia dan dampaknya terhadap lingkungan, BMKG menggunakan Skala MMI (Modified Mercalli Intensity). Skala ini memberikan deskripsi kualitatif mengenai intensitas gempa berdasarkan pengamatan di lapangan. Berikut adalah penjelasan mengenai tingkatan MMI dan dampaknya:
- I MMI: Getaran gempa umumnya tidak dirasakan oleh manusia, kecuali dalam kondisi yang sangat luar biasa oleh beberapa orang yang sensitif.
- II MMI: Getaran gempa dirasakan oleh sebagian kecil orang. Benda-benda ringan yang digantung, seperti lampu gantung, mungkin akan bergoyang.
- III MMI: Getaran gempa dirasakan nyata di dalam rumah. Seseorang yang berada di dalam mungkin merasakan seolah-olah ada truk yang melintas.
- IV MMI: Pada siang hari, gempa dapat dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan oleh beberapa orang di luar rumah. Gerabah mungkin pecah, jendela dan pintu dapat bergoyang hingga menimbulkan suara derit, dan dinding bisa berbunyi.
- V MMI: Hampir semua orang merasakan getaran gempa. Orang-orang mungkin panik dan berlarian. Gerabah pecah, barang-barang yang tidak kokoh dapat terlempar, tiang dan benda besar terlihat bergoyang, bahkan bandul lonceng bisa berhenti berayun.
- VI MMI: Getaran gempa dirasakan oleh semua orang. Kebanyakan orang akan terkejut dan berusaha keluar rumah. Plester dinding bisa berjatuhan dan cerobong asap di pabrik mungkin mengalami kerusakan ringan.
- VII MMI: Semua orang di dalam rumah akan keluar. Kerusakan ringan dapat terjadi pada bangunan yang konstruksinya baik. Namun, pada bangunan dengan konstruksi yang kurang baik, dapat terjadi retakan bahkan kerusakan yang lebih parah, termasuk pecahnya cerobong asap. Getaran juga bisa dirasakan oleh orang yang sedang berada di dalam kendaraan yang bergerak.
- VIII MMI: Bangunan dengan konstruksi kuat akan mengalami kerusakan ringan. Bangunan dengan konstruksi kurang baik akan mengalami keretakan yang lebih signifikan, dinding bisa terlepas dari rangka, cerobong asap pabrik dan monumen dapat roboh, serta air di sungai atau waduk bisa menjadi keruh.
- IX MMI: Bangunan dengan konstruksi kuat akan mengalami kerusakan yang lebih jelas, rangka rumah bisa menjadi tidak lurus, dan banyak terjadi keretakan. Rumah dapat terlihat bergeser dari pondasi awalnya, dan pipa-pipa di dalam rumah bisa putus.
- X MMI: Bangunan kayu yang kuat pun bisa rusak, rangka rumah terlepas dari pondasi, rel kereta api dapat melengkung, dan tanah longsor bisa terjadi di sepanjang sungai serta di lereng-lereng curam.
- XI MMI: Hanya sedikit bangunan yang masih berdiri. Jembatan mengalami kerusakan parah, lembah dapat terbentuk, dan pipa-pipa bawah tanah tidak dapat digunakan sama sekali. Tanah dapat terbelah dan rel kereta api sangat melengkung.
- XII MMI: Kerusakan total terjadi. Gelombang dapat terlihat pada permukaan tanah, pemandangan bisa menjadi gelap karena debu, dan benda-benda dapat terlempar ke udara.
Meskipun gempa di barat daya Malang kali ini memiliki magnitudo yang relatif kecil, pemahaman mengenai skala intensitas ini penting untuk mengantisipasi potensi dampak yang mungkin terjadi jika terjadi gempa dengan magnitudo yang lebih besar di masa mendatang. BMKG terus berupaya memberikan informasi yang cepat dan akurat untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana geologi.














