Dadan Hindayana: Dari Kepala BGN Hingga Perombakan Kepemimpinan
Dadan Hindayana, sosok yang pernah menduduki posisi strategis sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), kini menjadi sorotan publik menyusul perombakan kepemimpinan di lembaga tersebut. Awalnya dipilih langsung oleh Presiden Joko Widodo untuk memimpin BGN yang baru dibentuk, Dadan harus melepaskan jabatannya setelah Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk melakukan pergantian pimpinan. Pelantikan Dadan sebagai Kepala BGN pertama kali dilaksanakan pada Senin, 19 Agustus 2024, di Istana Negara. Badan Gizi Nasional sendiri resmi berdiri pada 15 Agustus 2024 melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024.
Selama masa jabatannya, Dadan Hindayana kerap menjadi topik perbincangan hangat di masyarakat. Berbagai kebijakan dan pernyataannya kerap memicu diskusi, bahkan kontroversi. Kini, kepemimpinan BGN mengalami perubahan signifikan dengan dicopotnya Dadan beserta dua wakilnya, Lodewyk Pusung dan Soni Sanjaya. Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, pada Selasa, Juni 2026, di Istana Negara.
Alasan di Balik Perombakan Kepemimpinan BGN
Menurut Mensesneg Prasetyo Hadi, pergantian pimpinan BGN merupakan hasil dari evaluasi kinerja yang telah dilakukan selama hampir satu setengah tahun. Berbagai catatan terkait kedisiplinan dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) tata kelola makanan menjadi pertimbangan utama. “Ada yang berkenaan dengan masalah kedisiplinan dalam menjalankan SOP. Ada yang berkenaan dengan masalah kedisiplinan dalam menjalankan tata kelola termasuk kedisiplinan di dalam menjaga kualitas dari makanan yang seharusnya sudah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional,” jelas Prasetyo Hadi. Perombakan ini diharapkan dapat segera memperbaiki catatan-catatan tersebut demi peningkatan kualitas program, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah.
Deretan Kontroversi Dadan Hindayana
Perjalanan Dadan Hindayana sebagai Kepala BGN tidak lepas dari berbagai pernyataan dan kebijakan yang menuai kontroversi dan sorotan publik. Berikut adalah beberapa momen yang paling banyak diperbincangkan:
-
Pernyataan tentang Konsumsi Susu 2 Liter per Hari
Dadan Hindayana pernah menjadi viral akibat pernyataannya mengenai konsumsi susu sebanyak dua liter per hari untuk anak-anak. Menurutnya, kebiasaan ini dapat membantu anak tumbuh tinggi. Ia mencontohkan kedua anak laki-lakinya yang memiliki tinggi badan 181 cm dan 185 cm berkat rutinitas minum susu dua liter setiap hari sejak kecil hingga kelas 2 SMA. “Jadi tinggi badan bukan cuma masalah genetik, tapi juga asupan gizi yang cukup dan seimbang,” ujar Dadan saat peluncuran pembangunan 1.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bangkalan, Senin (26/5/2025). Pernyataan ini sontak menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk dokter ternama Tan Shot Yen yang menyebut klaim tersebut “sesat”. -
Serangga sebagai Sumber Protein Potensial
Usulan Dadan Hindayana untuk memasukkan serangga, seperti ulat sagu, sebagai sumber protein dalam komposisi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi sorotan. Dadan berargumen bahwa BGN tidak menetapkan standar menu nasional, melainkan standar komposisi gizi. Hal ini memungkinkan setiap daerah untuk menyusun menu yang berbeda sesuai dengan potensi sumber daya lokal dan preferensi anak-anak setempat. “Itu salah satu contoh ya, kalau ada daerah-daerah tertentu yang terbiasa makan seperti itu, itu bisa menjadi menu di situ,” jelasnya pada Sabtu (25/1/2025). Ia menekankan bahwa peluang memasukkan menu lokal seperti serangga berkaitan erat dengan komposisi protein dan kesukaan masyarakat setempat, serta meminta agar contoh tersebut tidak disalahartikan. -
Gizi Pemain Sepak Bola Indonesia dan Performa Timnas
Kontroversi lain muncul ketika Dadan mengaitkan kualitas gizi pemain sepak bola Indonesia dengan performa mereka di lapangan. “Jangan heran kalau PSSI sulit menang karena main 90 menit berat. Kenapa? Karena gizinya tidak bagus dan banyak pemain bola lahir dari kampung,” ucapnya pada Minggu (23/3/2025). Pernyataan ini mendapat tanggapan keras dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, yang menyayangkan Dadan terlalu berlebihan dalam mengaitkan PSSI dengan makanan bergizi dan menyalahkan gizi pemain atas kekalahan timnas. -
Kasus Keracunan Program MBG
Beberapa kasus keracunan makanan yang dilaporkan terkait pelaksanaan program MBG menimbulkan kekhawatiran publik dan sorotan terhadap BGN. Di tengah isu ini, Dadan pernah mengeluarkan pernyataan yang dianggap meremehkan jumlah kasus keracunan dengan menyebutnya hanya menimpa sebagian kecil siswa sekolah. Koalisi Kawal Pendidikan Jakarta melalui anggotanya, Irwan Aldrin, mengkritik pernyataan tersebut sebagai “sangat luar biasa bodoh dan tidak bertanggung jawab” karena dianggap tidak sensitif terhadap kekhawatiran orang tua dan mereduksi penderitaan anak menjadi sekadar statistik. -
Pengadaan Motor Operasional MBG
Sebuah video yang menampilkan sejumlah sepeda motor berlogo Badan Gizi Nasional (BGN) sempat viral dan memicu spekulasi. Dadan menjelaskan bahwa pengadaan motor tersebut merupakan bagian dari perencanaan anggaran tahun 2025 yang ditujukan untuk mendukung operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia merinci bahwa pembayaran dilakukan dalam dua tahap sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 84 Tahun 2025. Hingga akhir masa pemberian kesempatan pada 20 Maret 2026, penyedia hanya mampu menyelesaikan 85,01% unit dari total kontrak, dan sisa dana telah dikembalikan ke kas negara. -
Aktivitas Golf Saat Bencana Melanda
Video Dadan Hindayana yang sedang bermain golf di tengah bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra sempat menjadi viral dan dianggap menunjukkan kurangnya empati. Dadan kemudian memberikan klarifikasi bahwa acara golf alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut bertujuan untuk menggalang dana bagi korban bencana. Ia mengklaim acara tersebut berhasil mengumpulkan donasi ratusan juta rupiah, yang sebagian dialokasikan untuk korban banjir di Aceh dan sebagian lagi untuk beasiswa. -
Pengangkatan Pegawai SPPG Menjadi ASN
Kontroversi lain yang mewarnai masa jabatan Dadan adalah rencana pengangkatan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Dadan menyebutkan bahwa kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan yang telah lama bertugas akan diangkat menjadi ASN PPPK per 1 Februari. Sementara itu, pegawai inti SPPG yang baru bergabung akan menunggu giliran untuk diangkat menjadi ASN.
Perombakan kepemimpinan di Badan Gizi Nasional ini menandai babak baru bagi lembaga tersebut, dengan harapan perbaikan kinerja dan peningkatan kualitas program gizi di seluruh Indonesia.





















