Banjir Viral Kayuboko-Air Panas: Tambang Ilegal Jadi Sorotan

Banjir Bandang di Parigi Moutong: Warga Kaitkan dengan Aktivitas Tambang Emas

Sebuah video yang merekam kejadian banjir di jembatan penghubung antara Desa Kayuboko dan Desa Air Panas, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong, telah menyebar luas di media sosial dan menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan masyarakat. Rekaman tersebut menunjukkan aliran air yang sangat deras, berwarna keruh pekat, bercampur dengan lumpur dan bebatuan, mengalir melintasi area jembatan. Genangan air yang meluas di sekitar jembatan ini menciptakan kondisi yang sangat berbahaya bagi siapa pun yang mencoba melintas.

Video yang diunggah oleh akun media sosial bernama Bambang di grup “Info Kota Parigi” ini dengan cepat menarik perhatian ratusan warga. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas bahwa air yang mengalir deras berasal dari arah kawasan perbukitan. Lokasi perbukitan ini diketahui berdekatan dengan area aktivitas pertambangan emas rakyat yang beroperasi di Desa Kayuboko. Fenomena alam ini memicu gelombang komentar dari warganet, banyak di antaranya secara langsung mengaitkan banjir tersebut dengan kegiatan penambangan yang berlangsung di wilayah hulu sungai.

Dugaan Penyebab Banjir: Limbah Tambang dan Pengelolaan yang Buruk

Banyak warga yang menyampaikan dugaan bahwa luapan air dan material lumpur yang terbawa berasal dari kawasan Tambang Emas yang berlokasi di Desa Kayuboko. Salah satu komentar yang menyoroti hal ini datang dari akun Eko Wijaya. Ia menduga adanya praktik pembuangan limbah tambang yang dilakukan secara langsung ke aliran sungai atau kuala tanpa adanya sistem penampungan yang memadai.

“Tambang Kayuboko, talang jumbo ada beberapa titik, langsung buang limbah ke kuala, tidak ada penampung. Kalau sudah begini siapa yang bertanggung jawab,” tulisnya dalam kolom komentar, menyuarakan kekhawatiran banyak orang.

Komentar serupa juga dilontarkan oleh akun Yudialamsya, yang mempertanyakan alasan di balik pembuangan limbah tambang ke kuala. “Yang punya talang jumbo yang bertanggung jawab sudah tahu dampaknya jadi seperti ini, kenapa mesti harus buang limbahnya ke kuala,” ujarnya, menuntut akuntabilitas dari pihak yang terlibat.

Akun Ma’mun Darahima menambahkan perspektif lain, menyebutkan bahwa material sisa pengolahan emas diduga tidak ditampung dengan baik dan langsung dialirkan ke sungai. Dampak dari praktik ini dirasakan oleh warga di hilir Sungai Desa Olaya. “Depe emas di Kayuboko, depe ampas ta tampung di Olaya,” tulisnya, menggambarkan bagaimana permasalahan di hulu berdampak pada masyarakat di hilir.

Tuntutan Tanggung Jawab dan Ganti Rugi

Selain spekulasi mengenai penyebab banjir, banyak warga yang juga menyerukan adanya tanggung jawab dari pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas pertambangan. Akun Oslan Todi Barasonggo berpendapat bahwa pihak pengelola yang berkaitan dengan aktivitas tambang memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab atas dampak yang terjadi.

“Siapa yang bertanggung jawab kalau sudah begini. Air sudah di kebun masyarakat semua. Tolong pengurus koperasi yang ada kaitannya dengan pengurus tambang harus bertanggung jawab,” tegasnya. Ia juga secara spesifik meminta adanya ganti rugi bagi tanaman milik warga yang terdampak genangan air akibat banjir tersebut.

Kekhawatiran yang lebih luas juga diungkapkan oleh Fadli Larette, yang mendesak agar aktivitas tambang ilegal dihentikan. Ia berpendapat bahwa kegiatan semacam itu lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat bagi masyarakat luas. “Tambang kenikmatan sesaat dan hanya orang tertentu yang menikmati hasilnya, tapi derita dirasakan masyarakat banyak. Mohon dihentikan saja tambang ilegal,” tulisnya, menyuarakan aspirasi banyak warga yang merasa dirugikan.

Perspektif Berbeda dan Keresahan Lingkungan

Namun, tidak semua komentar menyalahkan sepenuhnya pengelola tambang. Ada pula pandangan yang menyatakan bahwa persoalan ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada mereka. Akun Harfan SE berpendapat bahwa aktivitas pertambangan tidak akan bisa berjalan tanpa adanya dukungan atau persetujuan dari sebagian masyarakat setempat.

“Kalau masyarakat di situ bersatu jangan buka lahan tambang, itu tidak bakal terjadi,” tulisnya, menyiratkan bahwa ada peran serta masyarakat lokal dalam kelangsungan aktivitas pertambangan.

Terlepas dari berbagai sudut pandang yang muncul, jelas terlihat adanya keresahan masyarakat yang mendalam terkait dampak lingkungan yang timbul akibat aktivitas pertambangan di wilayah Kayuboko. Kejadian banjir ini menjadi bukti nyata dari kekhawatiran tersebut.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi yang dikeluarkan oleh pihak pengelola tambang maupun instansi pemerintah terkait mengenai penyebab pasti dari banjir yang terekam dalam video viral tersebut. Kejadian ini menyoroti pentingnya pengawasan yang lebih ketat dan kajian mendalam terhadap dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan. Diharapkan pemerintah daerah dan instansi berwenang dapat segera melakukan penelusuran dan kajian lapangan untuk memastikan penyebab banjir, sekaligus memberikan jawaban yang memadai atas berbagai kekhawatiran yang berkembang di tengah masyarakat dan media sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *