Ade Naylan Sadida: Hafizah 30 Juz Lolos Dokter USK

Santriwati Berprestasi Aceh, Ade Naylan Sadida, Raih Mimpi Kuliah Kedokteran dan Inspirasi Internasional

Aceh kembali menorehkan nama di kancah nasional dan internasional melalui prestasi gemilang seorang santriwati. Ade Naylan Sadida, seorang siswi dari Dayah Darul Quran Aceh (DQA) di Kecamatan Samahani, Aceh Besar, telah membuktikan kapasitasnya dengan serangkaian pencapaian luar biasa. Sebagai putri kedua dari pasangan Dr H Daska Aziz, MA, mantan Wakil Bupati Aceh Selatan yang kini berprofesi sebagai dosen FKIP Universitas Syiah Kuala (USK), dan Eva Murtisal, S.Pd.I., M.Pd., Ade resmi diterima sebagai mahasiswi baru di Program Studi Pendidikan Dokter USK.

Perjalanan Ade tidak berhenti di situ. Gadis asal Kabupaten Aceh Selatan ini juga telah berhasil mengharumkan nama daerahnya di panggung internasional. Pada tahun 2024, ia meraih penghargaan Best Award Program dalam ajang The 7th International Youth Exchange and Conference SDGs Kesehatan. Acara bergengsi ini diikuti oleh peserta dari berbagai negara, menunjukkan kemampuan Ade dalam bersaing di tingkat global.

Ade, sapaan akrabnya, kini resmi tercatat sebagai mahasiswi baru Program Studi Pendidikan Dokter USK setelah berhasil lolos melalui jalur Seleksi Talenta Jawara MTQ Aceh. Pengumuman kelulusannya sendiri dilakukan pada hari Senin, 1 Juni 2026.

Menariknya, Ade juga berhasil lolos seleksi di jalur PTKIN untuk program studi Psikologi di UIN Jakarta. Namun, ia dengan mantap memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi di bidang kedokteran, tepatnya di Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Jalur Seleksi Talenta ini merupakan salah satu jalur penerimaan khusus yang dirancang bagi calon mahasiswa berprestasi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dalam berbagai bidang talenta, seperti siswa teladan, peserta olimpiade, dan kategori lainnya.

Gagasan Solusi Kesehatan Berbasis Komunitas di Forum Internasional

Di forum internasional yang dihadirinya, Ade mempresentasikan sebuah gagasan inovatif mengenai solusi kesehatan yang berbasis komunitas. Inisiatif ini dirancang untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ketiga, yang menekankan pada Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

Gagasan yang Ade presentasikan mendapatkan apresiasi tinggi dari dewan juri. Penilaian tersebut didasarkan pada aplikasi yang nyata, landasan data yang kuat, serta relevansi gagasan tersebut dengan tantangan kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Presentasi yang memukau ini disampaikan dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan di Singapura.

Keseimbangan Prestasi Akademik, Spiritual, dan Internasional

Di balik kesuksesan akademiknya dan kiprah internasionalnya, Ade Naylan Sadida dikenal sebagai pribadi yang memiliki pondasi spiritual yang kuat. Ia adalah seorang penghafal 30 juz Al-Qur’an. Selain itu, Ade juga merupakan peraih berbagai penghargaan dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Prestasinya di bidang ini bahkan pernah mengantarkannya meraih gelar juara umum saat masih menempuh pendidikan di MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri), serta menjadi siswa teladan di jenjang SMP.

Keseimbangan antara pencapaian duniawi dan spiritual ini terlihat jelas dalam pandangannya. “Menghafal Al-Qur’an mengajarkan saya disiplin, manajemen waktu, dan tanggung jawab. Satu ayat yang terlupa harus diulang berkali-kali. Mental seperti inilah yang saya pakai saat berkompetisi dan mewujudkan gagasan di forum internasional,” ujar Ade.

Keputusannya untuk menempuh pendidikan kedokteran didasari oleh keinginan kuat untuk mengabdi kepada masyarakat. Ade bertekad bahwa ilmu yang akan ia peroleh di Fakultas Kedokteran USK nantinya akan dikembalikan kepada masyarakat. Cita-citanya adalah menjadi seorang dokter yang tidak hanya memiliki kompetensi keilmuan yang mumpuni, tetapi juga senantiasa berempati dan memiliki akhlak mulia.

Melalui prestasi yang telah diraihnya, Ade berharap dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Aceh dan Indonesia secara keseluruhan. Ia mendorong agar para pemuda terus berprestasi, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik, tanpa melupakan akar budaya dan nilai-nilai spiritual yang telah tertanam.

Posting Terkait

JANGAN LEWATKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *