Pulangnya Seorang Murobbi Ilmu Mengenang Prof. Dr. H. Achmad Sanusi (1929–2026)

Oleh: Dinn Wahyudin

Dunia pendidikan Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Pada Selasa, 23 Juni 2026, Prof. Dr. H. Achmad Sanusi, mantan Rektor IKIP Bandung periode 1966–1971 yang kini menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), berpulang ke rahmatullah dalam usia 96 tahun.

Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang guru besar, melainkan kehilangan seorang pendidik sejati yang sepanjang hidupnya mengabdikan ilmu, pemikiran, dan tenaganya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagi banyak kalangan, Prof. Achmad Sanusi adalah sosok langka yang memadukan kecerdasan intelektual, kebijaksanaan moral, dan kesalehan pribadi. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu pendidikan, tetapi juga memberi teladan tentang bagaimana ilmu harus diabdikan untuk kemaslahatan manusia. Baginya, pendidikan adalah jalan peradaban, jalan pengabdian, sekaligus jalan ibadah.

Wafatnya Prof. Achmad Sanusi menutup perjalanan panjang yang sarat dedikasi, tetapi tidak menghentikan pengaruh pemikiran dan keteladanan yang diwariskannya. Gagasan-gagasannya tetap hidup di ruang-ruang kuliah, dalam karya akademik, kebijakan pendidikan, serta dalam diri para murid dan kolega yang pernah disentuh oleh pemikiran dan kebijaksanaannya.

Bagi keluarga besar UPI, Universitas Islam Nusantara (UNINUS), dan komunitas pendidikan nasional, Prof. Achmad Sanusi bukan sekadar mantan rektor atau guru besar. Ia merupakan salah satu arsitek penting ilmu pendidikan Indonesia, penggerak profesionalisme guru, sekaligus intelektual yang konsisten memperjuangkan pendidikan sebagai sarana memanusiakan manusia.

Dalam berbagai tulisan dan ceramahnya, ia kerap mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya bertugas mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk watak, menumbuhkan tanggung jawab sosial, dan memperkuat akhlak kebangsaan. Kepergiannya menjadi momentum untuk menengok kembali jejak panjang pengabdian yang telah ditorehkannya.

Melawan dengan Pendidikan

Prof. Achmad Sanusi lahir di Banjaran, Bandung Selatan, pada 31 Agustus 1929. Setelah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia, ia melanjutkan studi Master of Public Administration (MPA) dan doktoral (PhD) di Indiana University, Amerika Serikat.

Pengalaman akademik internasional tersebut tidak menjauhkannya dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya, pengalaman itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa pendidikan Indonesia harus dibangun di atas nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan kebangsaan.

Pada usia relatif muda, sekitar 37 tahun, ia dipercaya memimpin IKIP Bandung sebagai rektor. Kepercayaan itu mencerminkan kapasitas intelektual sekaligus kepemimpinannya dalam mengembangkan pendidikan guru di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, IKIP Bandung tumbuh menjadi salah satu pusat pemikiran pendidikan yang berpengaruh di tingkat nasional.

Bagi Achmad Sanusi, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Karena itu, ia selalu menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan moral, tanggung jawab sosial, dan kepribadian kebangsaan.

Dalam pandangannya, manusia terdidik adalah manusia yang berilmu sekaligus berakhlak, cerdas sekaligus peduli terhadap sesama. Ia juga meyakini bahwa kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas para gurunya.

Dalam konteks pembangunan nasional, Achmad Sanusi memandang pendidikan sebagai instrumen transformasi sosial. Pendidikan harus mampu membebaskan masyarakat dari kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Baginya, pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya pembangunan fisik, melainkan pembangunan manusia yang berkarakter, berpikir kritis, dan memiliki kesadaran sosial.

Warisan Pemikiran dan Nilai

Warisan terbesar Prof. Achmad Sanusi bukanlah jabatan yang pernah diembannya, melainkan sistem nilai yang ditinggalkannya.

Ia mewariskan keyakinan bahwa pendidikan harus berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya. Kecerdasan tanpa moralitas, menurutnya, dapat kehilangan arah, sementara moralitas tanpa pengetahuan akan kehilangan daya.

Ia juga meninggalkan fondasi penting bagi pengembangan profesionalisme guru di Indonesia. Pemikirannya mengenai guru sebagai profesi yang bermartabat hingga kini masih menjadi rujukan dalam berbagai kebijakan pendidikan.

Kontribusi lainnya tampak dalam upayanya memperkuat ilmu pendidikan sebagai disiplin akademik melalui Konsorsium Ilmu Pendidikan Indonesia. Peran tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan pendidikan nasional.

Prof. Achmad Sanusi juga memberikan teladan tentang bagaimana seorang intelektual harus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Modernitas, menurutnya, tidak boleh membuat bangsa kehilangan identitas budaya dan moralitasnya. Karena itu, pendidikan harus menjadi ruang bertemunya ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan akhlak.

Tegas, Humanis, dan Humoris

Di balik ketegasan pemikirannya, Prof. Achmad Sanusi dikenal sebagai pribadi yang hangat dan bersahaja. Ia memiliki kemampuan menjelaskan persoalan yang rumit dengan bahasa sederhana, sering kali diselingi humor yang cerdas.

Banyak mahasiswa dan kolega mengenangnya sebagai sosok yang mampu menghidupkan forum ilmiah tanpa kehilangan kedalaman substansi. Humor yang digunakannya bukan sekadar hiburan, melainkan cara menyampaikan pesan-pesan pendidikan secara lebih manusiawi.

Ia memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak harus disampaikan dengan wajah yang kaku. Pendidikan akan lebih bermakna ketika dibangun di atas relasi yang hangat, dialogis, dan penuh penghargaan terhadap sesama.

Kerendahan hati, kesederhanaan, dan keterbukaannya menjadikan beliau dicintai banyak kalangan. Ia tidak pernah menempatkan dirinya jauh dari mahasiswa maupun kolega. Sebaliknya, ia hadir sebagai guru, sahabat, sekaligus teladan.

Menjaga Marwah Akademik

Salah satu karakter yang menonjol dari Prof. Achmad Sanusi adalah keberaniannya menjaga marwah akademik.

Pada masa-masa yang tidak selalu mudah bagi kehidupan kampus Indonesia, ia berupaya mempertahankan perguruan tinggi sebagai ruang kebebasan berpikir dan pengembangan ilmu pengetahuan. Ia percaya bahwa kampus harus menjadi tempat lahirnya pemikiran kritis dan dialog yang sehat.

Karena itu, ia selalu mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan fungsi moral dan intelektualnya akibat tekanan kepentingan sesaat. Sikap inilah yang membuatnya dikenang sebagai pemimpin akademik yang berintegritas dan memiliki keberanian moral.

Bahkan setelah memasuki usia senja, semangat intelektualnya tidak pernah surut. Ia tetap aktif menulis, berdiskusi, membimbing, dan menyumbangkan gagasan bagi kemajuan pendidikan Indonesia.

Melalui kehidupannya, ia mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan beriringan dengan akhlak, bahwa kecerdasan harus disertai kerendahan hati, dan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang akademisi.

Kembali kepada Sang Khalik

Kini sosok yang sepanjang hidupnya menyalakan lilin-lilin pengetahuan itu telah kembali menghadap Sang Khalik.

Setelah hampir satu abad menjalani kehidupan yang penuh pengabdian, Prof. Achmad Sanusi meninggalkan dunia dengan amal ilmu yang terus mengalir melalui murid-muridnya, karya-karya ilmiahnya, dan gagasan-gagasan yang ditanamkannya dalam dunia pendidikan Indonesia.

Wafatnya Prof. Achmad Sanusi bukanlah akhir dari pengaruhnya. Selama masih ada guru yang mendidik dengan hati, kampus yang menjunjung integritas akademik, dan generasi muda yang belajar menjadi manusia berilmu serta berakhlak, di situlah jejak pengabdiannya akan tetap hidup.

Kita kehilangan raganya, tetapi tidak kehilangan keteladanannya. Kita berpisah dengan sosoknya, tetapi tidak dengan nilai-nilai yang diwariskannya.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Selamat jalan, Prof. Achmad Sanusi. Engkau seorang murobbi ilmu. Engkau melawan dengan pendidikan, mendidik dengan keteladanan, dan mengabdi dengan keikhlasan. Warisanmu akan terus hidup dalam perjalanan panjang pendidikan Indonesia.

Dien

Posting Terkait

JANGAN LEWATKAN