Yutelnews.com | Setelah sekian lama tersimpan rasa takut, malu dan trauma, akhirnya korban yang berinisial EV berani membuka suara kepada awak media ketika dijumpai dan ditanya. Korban mulai menceritakan kronologis yang sebenarnya.
Menurut korban, kejadian berlangsung pada malam hari di dalam gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) Desa Namlea Ilath, Kecamatan Batabual, Kabupaten Buru. Pelaku diduga seorang guru honorer berinisial SW yang mengajar di Madrasah Aliyah Ulil Ambri Desa Namlea Ilath — satu sekolah dengan korban, dengan status hubungan guru dan siswa.
“Pertama bapa guru itu janji beta: ‘Beta sabantar bale pigi di sekolah SMP, abis Magrib ada mau bikin tugas tapi beta pigi abis sholat isaa di situ.’ Beta pikir itu urusan sekolah. Abis sholat Isya, sekitar jam sembilan malam, tiba‑tiba tamang dong su datang panggil beta di rumah dong. Bilang: ‘Mari jua, katong pigi — bapa guru sudah tunggu katong di sekolah.’
Lalu katong pigi jalan: beta jalan ka muka, beta pung tamang‑tamang dong bajalang dari belakang. Sampai di sekolah, bapa guru su tunggu katong di teras sekolah. Antua suruh beta masuk di dalam kelas. Beta seng mau masuk beta takut, tapi antua tarek beta pung tangan paksa masuk ke dalam ruangan. Baru antua tutup pintu, beta buka akang lai, antua tutup akang lai.
La beta su duduk, padahal antua langsung polo beta, terus cium beta. Abis itu antua mau tahang beta pung dada, itu antua isi dia pung tangan di beta pung dalam celana. Abis itu dia sutahang beta pung dada — klau di bawa belum barang beta maronta.
Sampe beta pung tamang dong datang karena dong dengar beta pung suara, Haerul lansung dobrak pintu sampai tabuka. Lansung dia tahang bapa guru, antua mau lari. Lansung Riska angka beta pung badan kasih bangun, terus dong bawa bapa guru kaluar di jalan, tarus dong bawa antua ke rumah pak RT untuk kasih keterangan.”
EV, selama ini beta rasa berat hati para mau cerita — beta takut, malu, tidur seng tenang, pikiran selalu kacau. Tapi sekarang beta su berani cerita supaya kebenaran terungkap, dan supaya orang yang salah dapat hukuman yang setimpal.
Laporan sudah masuk ke Polres Buru. Namun sampai berita ini diterbitkan, pelaku masih saja berkeliaran bebas, belum ada tindakan maupun pengamanan dari pihak berwajib. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan keluarga dan masyarakat: “Ada apa ini, kenapa sampai begini?”
Keluarga korban menyampaikan kekhawatirannya, diduga ada keterlambatan proses bahkan permainan dalam pencatatan Laporan Kejadian (SPKT) dan penyusunan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). “Kalau menurut keluarga sampai akang berlarut‑larut terus, dan akang terbukti ada permainan di situ, maka kami atas nama pihak keluarga tidak segan‑segan untuk melanjutkan laporan ini sampai ke Polda maluku, Ambon. guna memeriksa ulang seluruh proses, termasuk SPKT dan BAP yang sudah ada,” tegas pihak keluarga.
Masyarakat pun berharap penyidik memeriksa kasus ini sampai ke akar, jangan ada yang ditutup‑tutupi, supaya keadilan benar‑benar terwujud bagi korban sesuai Undang‑Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).
Korwil, m,(Ld Rama,).






















