Ribuan Guru Hilang, Pendidikan Tasikmalaya Terancam Kekurangan Tenaga Pendidik
Kota Tasikmalaya menghadapi tantangan serius dalam sektor pendidikan. Sejumlah besar sekolah negeri di kota ini mengalami kekurangan guru yang signifikan, menciptakan potensi hambatan bagi kelancaran proses belajar mengajar. Data terbaru dari Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya menunjukkan angka defisit guru mencapai 3.717 orang. Rinciannya adalah kekurangan 5 guru Taman Kanak-kanak (TK), 2.638 guru Sekolah Dasar (SD), dan 1.074 guru Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Rojab Riswan Taufik, mengakui bahwa krisis kekurangan tenaga pendidik ini bukan fenomena baru dan melanda hampir seluruh satuan pendidikan di bawah naungannya. Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor utama pemicu kondisi ini adalah tingginya angka guru yang memasuki masa pensiun dalam beberapa tahun terakhir.
“Kekurangan guru memang menjadi tantangan yang kami hadapi saat ini. Sebagian besar disebabkan oleh banyak guru yang memasuki masa pensiun,” ujar Rojab pada Senin, 1 Juni 2026.
Rojab menambahkan bahwa pemerintah daerah memiliki keterbatasan kewenangan dalam melakukan pengangkatan guru baru secara masif. Hal ini dikarenakan proses rekrutmen harus selalu menyesuaikan dengan regulasi dan kebijakan kepegawaian yang berlaku di tingkat yang lebih tinggi.
Meskipun demikian, Rojab memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah-sekolah tetap berjalan normal dan tidak sampai mengganggu pelayanan pendidikan kepada para peserta didik. Pihaknya terus berupaya keras untuk menutupi kekosongan tenaga pendidik demi menjaga efektivitas kegiatan pembelajaran.
Strategi Mengatasi Kekurangan Guru
Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. Berbagai strategi telah dan terus dikembangkan untuk mengatasi defisit guru. Salah satu langkah konkret yang telah ditempuh adalah menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Tasikmalaya dan wilayah sekitarnya.
Pemanfaatan Mahasiswa Praktik
Melalui kerja sama ini, mahasiswa yang sedang menjalani program praktik lapangan, magang, atau program Pengenalan Lingkungan Persekolahan (PLP), dapat ditempatkan di sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan guru.
Namun, Rojab menekankan bahwa keberadaan mahasiswa praktik ini bukanlah solusi permanen untuk menggantikan peran guru. Peran mereka lebih bersifat membantu pihak sekolah dalam menjaga keberlangsungan KBM, sekaligus memberikan pengalaman lapangan yang berharga bagi calon pendidik tersebut.
Redistribusi Guru yang Ada
Selain itu, Dinas Pendidikan juga melakukan penataan dan redistribusi guru yang masih tersedia. Tujuannya adalah agar kebutuhan tenaga pendidik di setiap sekolah dapat terpenuhi secara lebih merata, meskipun jumlahnya masih belum ideal.
Evaluasi Perencanaan Kebutuhan Guru
Di sisi lain, persoalan kekurangan guru yang mencapai ribuan orang ini juga menuai sorotan dari berbagai pihak. Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Tasikmalaya, M. Hasan As’arie, menilai bahwa masalah ini tidak bisa dilepaskan dari fungsi perencanaan yang seharusnya dijalankan secara berkelanjutan dan prediktif.
“Ketika angka kekurangan guru sudah mencapai ribuan orang, tentu ini tidak bisa dianggap sebagai persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Harus ada evaluasi terhadap sistem perencanaan kebutuhan guru yang selama ini dijalankan,” ujar Hasan.
Menurutnya, kebutuhan guru merupakan hal yang dapat diproyeksikan dengan baik. Data mengenai guru yang akan pensiun, mutasi, hingga perkembangan jumlah peserta didik seharusnya tersedia setiap tahun, sehingga dapat menjadi dasar perencanaan yang matang.
Pemerhati pendidikan Kota Tasikmalaya, Encep Iik Muzakir, menyampaikan pandangan yang senada. Ia berpendapat bahwa angka kebutuhan guru yang sangat tinggi menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola tenaga pendidik di lingkungan Dinas Pendidikan.
Iik menekankan bahwa dinas pendidikan seharusnya mampu memetakan kebutuhan guru secara lebih akurat. Data mengenai guru yang akan memasuki masa pensiun, serta kebutuhan spesifik di setiap sekolah, dapat diketahui jauh hari sebelumnya.
“Oleh karena itu, publik wajar mempertanyakan sejauh mana perencanaan dan mitigasi yang dilakukan selama ini terhadap isu krusial ini,” pungkas Iik.
Situasi kekurangan guru ini menjadi pengingat pentingnya perencanaan strategis dan evaluasi berkala dalam pengelolaan sumber daya manusia di sektor pendidikan agar kualitas pendidikan dapat terus terjaga.




