PALEMBANG — Perkembangan ekonomi di Sumatra Selatan pada Mei 2026 menunjukkan adanya tren inflasi yang perlu menjadi perhatian. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatra Selatan mencatat inflasi tahunan sebesar 2,61% (year on year/yoy). Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya, April 2026, yang berada di angka 1,63%, serta lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Mei 2025, yang tercatat 2,33%.
Analisis Pemicu Inflasi Tahunan di Sumatra Selatan
Kepala BPS Provinsi Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa kenaikan indeks inflasi tahunan ini dipengaruhi oleh seluruh kelompok pengeluaran. “Mulai dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, karena ini dipengaruhi oleh harga-harga satu tahun sebelumnya,” ujar Wahyu saat merilis data statistik pada Selasa, Juni 2026.
Secara lebih rinci, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kontributor terbesar terhadap inflasi tahunan di Sumatra Selatan. Kelompok ini menyumbang andil sebesar 1,04% dengan tingkat inflasi mencapai 12,65%. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil yang signifikan pula, yaitu 0,99% dengan tingkat inflasi sebesar 3,16%.
Beberapa komoditas utama yang tercatat sebagai penyumbang inflasi tahunan di Sumatra Selatan meliputi:
- Emas perhiasan
- Daging ayam ras
- Cabai merah
- Minyak goreng
Dampak Geopolitik Global dan Lokal terhadap Inflasi
Menurut Wahyu, peningkatan inflasi di Sumatra Selatan, maupun secara nasional, mulai menunjukkan adanya dampak dari konflik global, khususnya yang terjadi di Iran. Salah satu pemicu utama yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Ya, sekarang orang mengeluh apa lagi yang naik (mobil) solar atau dexlite, naiknya cukup tinggi. Nah, kemudian pengaruhnya juga ke Avtur untuk angkutan udara sudah banyak mengeluh, harganya naik hampir dua kali lipat,” ungkap Wahyu, menggambarkan kenaikan harga BBM yang signifikan.
Selain faktor global, inflasi di Sumatra Selatan juga dipengaruhi oleh gejolak harga pada sejumlah komoditas lokal. Sektor hortikultura, khususnya cabai, menjadi salah satu yang paling terdampak. Kondisi cuaca yang cenderung panas menyebabkan ketidakpastian dalam produksi, yang pada akhirnya berdampak pada pasokan dan fluktuasi harga di pasar tradisional.
“Dan tentu situasi ini menjadi perhatian pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk mengantisipasi pergerakan inflasi pada bulan-bulan mendatang,” tambah Wahyu, menekankan pentingnya langkah antisipatif dari berbagai pihak pemerintah.
Inflasi Bulanan: Perubahan Signifikan dari Deflasi ke Inflasi
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat perkembangan inflasi bulanan di Sumatra Selatan. Pada Mei 2026, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,61% (month to month/mtm). Angka ini menunjukkan perubahan yang cukup signifikan, berbalik dari bulan sebelumnya, April 2026, yang justru mengalami deflasi sebesar 0,04%.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi bulanan di Sumatra Selatan. Kelompok ini memberikan andil sebesar 0,44%.
Komoditas-komoditas utama yang menjadi pendorong inflasi bulanan pada Mei 2026 di Sumatra Selatan meliputi:
- Cabai merah
- Bawang merah
- Tomat
- Cabai rawit
- Ketimun
Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pangan dan bahan pokok masih menjadi faktor krusial dalam pergerakan inflasi bulanan, yang memerlukan pemantauan dan intervensi yang berkelanjutan untuk menjaga stabilitas harga.






