Yutelnews.com | Berita yang menyebutkan ada puluhan ekskavator beroperasi liar di kawasan Gunung Nona dan Sungai Waemkedan, Desa Wapsalit, dinilai sama sekali tidak berdasar dan jauh dari kenyataan. Warga disana menegaskan, lokasi itu bukanlah Gunung Botak, melainkan sisa-sisa harapan mereka untuk tetap bertahan hidup.
Setelah Gunung Botak sudah dikuasai koperasi, warga tidak lagi memiliki tempat mencari nafkah lain selain di Gunung Nona.
“Gunung Nona bukan Gunung Botak. Di sana kami cari hidup untuk biaya sekolah anak, beli kebutuhan dapur, dan menutupi kekurangan keluarga. Berita yang disebarkan itu sangat tidak adil, seolah-olah sengaja ingin mematikan jalan rezeki kami. Untung masih ada Gunung Nona, kalau tidak ada, kami terpaksa kembali masuk hutan hanya memetik daun kayu putih demi makan sehari-hari,” ujar perwakilan masyarakat dengan nada sedih namun tegas.
Pihak kepolisian pun membenarkan tidak adanya bukti pendukung angka yang disebutkan. Kasi Humas Polres Buru Ipda Jaya Permana menjelaskan, saat tim turun melakukan pengecekan keamanan beberapa waktu lalu, tidak ditemukan satupun ekskavator yang beroperasi di lokasi tersebut. Angka 30 unit yang beredar dinilai tidak memiliki dasar data yang sah.
Ia juga mengingatkan pentingnya membedakan status hukum masing-masing wilayah. Aktivitas di Gunung Botak yang dijalankan PT TriM bersama koperasi pemegang Izin Pertambangan Rakyat (IPR), tidak bisa disamakan begitu saja dengan kondisi di tempat lain.
Warga memohon kepada semua pihak yang menyuarakan isu ini: jangan hanya berbicara di atas kertas atau media sosial. Turunlah langsung ke lokasi, rasakan sendiri kehidupan mereka, jangan menyebarkan narasi yang justru menindas rakyat kecil yang sedang berjuang sekuat tenaga.
“Kami tidak menolak aturan negara, kami juga ingin taat hukum. Tapi tolong, janganlah kalian putuskan satu-satunya jalan kami makan. Kami butuh perhatian dan solusi, bukan tuduhan yang tak berdasar.
Korwil,m,(LD, Rama,).



































