BANDUNG -YUTELNEWS.com// Komitmen dan kepedulian Telkom University terhadap lingkungan sekitar menuai sorotan dan kritik tajam.
Di tengah upaya masif penanggulangan banjir yang tengah digencarkan oleh Pentahelix Penanggulangan Banjir Dayeuhkolot, perguruan tinggi swasta terkemuka ini justru dinilai kurang tanggap dan minim kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Kritik pedas ini salah satunya datang dari Wawan, salah seorang warga Kecamatan Dayeuhkolot. Ia mengaku sangat menyayangkan kabar yang beredar di tengah masyarakat terkait alokasi Dana Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) Telkom University yang justru diduga digelontorkan ke wilayah kecamatan lain.
”Kalau isu ini benar, sangat disayangkan dan sungguh miris sekali. Mau bagaimana pun kampus ini berkegiatan dan berdomisili di wilayah Dayeuhkolot, tapi mengapa tidak ada kontribusinya sama sekali buat wilayah sendiri,” tegas Wawan kepada awak media dengan nada kecewa, Selasa (27/10/2026).
Hal senada juga diungkapkan oleh Saepudin (50), warga Kelurahan Pasawahan, Kecamatan Dayeuhkolot. Ia mengkritik keras langkah Telkom University yang melaksanakan social engineering di 10 kecamatan lain di luar Kecamatan Dayeuhkolot.
“Saya heran dengan keputusan Telkom University yang melaksanakan kegiatan sosial engineering dan ikut menangani banjir di kecamatan lain. Tapi mereka mengabaikan Kecamatan Dayeuhkolot yang notabene tempat mereka berdomisili,” ungkap Saepudin.
Seharusnya, kata dia, sebelum bergerak di wilayah lain, Telkom University terlebih dahulu harus menunjukkan kepedulian mereka di wilayah tempat domisili mereka yakni di Kecamatan Dayeuhkolot.
“Sangat ironis jika Telkom University menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan di kecamatan lain, tapi mereka tidak peduli dengan masyarakat Kecamatan Dayeuhkolot. Padahal mereka berkegiatan dan tinggal di sini,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Pentahelix Dayeuhkolot Tri Rahmanto juga menyayangkan langkah Telkom University yang seolah melupakan penanganan banjir di Kecamatan Dayeuhkolot, tapi turun membantu kecamatan lain.
“Saya juga terkejut mendengar Telkom University menurunkan anggaran ratusan juta untuk membantu kecamatan lain. Tapi untuk Kecamatan Dayeuhkolot enggak ada sama sekali. Padahal domisili kampus mereka ada di Dayeuhkolot,” ungkap Tri Rahmanto.
Tri mengungkapkan Pentahelix Dayeuhkolot pernah beberapa kali mengajukan proposal bantuan sekaligus mengajak Telkom University untuk berkolaborasi untuk menangani permasalahan banjir di Kecamatan Dayeuhkolot.
“Kami sudah beberapa kali mengajukan surat untuk audiensi. Tapi tidak ada respon. Apalagi ketika mengajukan proposal untuk penanganan banjir di Kecamatan Dayeuhkolot. Kami tidak menerima tanggapan positif dari Telkom University,” jelasnya.
Telebih, saat ini Pemerintah Kecamatan Dayeuhkolot dan Pentahelix saat ini sedang gencar-gencarnya melaksanakan program sosialisasi serta penanganan langsung ancaman banjir.
Pemerintah bersama Tim Pentahelix Dayeuhkolot, secara konsisten turun tangan membersihkan saluran air, pengerukan sedimentasi, hingga penataan tanggul sungai.
Mengingat kompleksitas persoalan banjir ini, lanjut Tri, penanganannya memerlukan sinergi dan kolaborasi nyata dari semua pihak, termasuk masyarakat, pelaku usaha, media dan institusi pendidikan yang berada di Kecamatan Dayeuhkolot.
“Semoga ke depan Telkom University dapat mendukung program-program penanganan banjir, agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Tri Rahmanto.
Hingga kini belum ada tanggapan dari pihak Telkom University terkait kekecewaan warga Dayeuhkolot tersebut. Pihak rektorat hingga kini belum dapat dihubungi.(**)
Yans.



























