BANDUNG -YUTELNEWS.com// Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot bersama puluhan relawan Prima turun membersihkan sungai dan saluran di perbatasan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, tepatnya di depan gerbang Taman Cibaduyut Indah (TCI), Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Senin (02/11/2026).
Aksi nyata kolaborasi penanganan banjir di kawasan perbatasan tersebut juga dihadiri pemerintah kedua wilayah yakni Dinas PUTR Kabupaten Bandung, Dinas LH yang di wakili UPT Wilayah 3, Camat Dayeuhkolot,Polsek Dayeuhkolot, Koramil 2407, Kepala Desa Cangkuangkulon dan Pemkot Bandung, serta personel Satgas Citarum Harum. Hadir pula Sekda Jabar Dr Herman Suryatman M.Si, Kadis SDA bersama jajaran SDA Provinsi Jabar.
Kegiatan bersih-bersih sungai bendungan situtarate dan dranase ini, berawal dari inisiatif Pentahelix Dayeuhkolot yang sebelumnya terlebih dahulu mengundang dua Kelurahan di Kota Bandung yakni Kelurahan Cibaduyut Kidul dan Kelurahan Cibaduyut Kulon pada 30 Oktober lalu.
Tanpa diduga, koordinasi Pentahelix dan kedua wilayah di perbatasan tersebut mendapatkan respon cepat dan positif dari Sekda Jabar Herman Suryatman yang langsung turun ke lokasi. Terlebih,sebelumnya banyak masyarakat yang mengeluhkan banjir kiriman di wilayah perbatasan tersebut.
“Alhamdulillah berkat instruksi dan fasilitasi Pak Sekda Jabar, pada hari ini kita bisa aksi nyata melakukan normalisasi sungai dan mengangkat sampah kiriman yang menumpuk di sungai bendungan situtarate dan saluran air,” ujar Ketua Pentahelix Dayeuhkolot,H Tri Rahmanto.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kegiatan normalisasi sungai dan saluran difokuskan di kawasan perbatasan Cibaduyut-Dayeuhkolot atau tepatnya dekat underpass Cibaduyut hingga gerbang TCI.
Sinergi lintas wilayah ini dinilai sangat krusial dan strategis mengingat permasalahan banjir di kawasan perbatasan yang sangat kompleks memerlukan penanganan yang terintegrasi antar wilayah dengan difasilitasi Pemprov Jabar.
H.Tri pun menjelaskan, fokus utama dari kegiatan gempur lawan banjir ini adalah optimalisasi saluran sungai bendungan situtarate dan drainase melalui pengerukan sedimen serta pengangkatan sampah yang terbawa arus dari wilayah hulu di Kota Bandung dan mengalir ke wilayah underpass Cibaduyut dan TCI Kecamatan Dayeuhkolot.
“Penumpukan sedimentasi dan sampah di jalur sunhai dan drainase inilah yang selama ini kerap menyebabkan banjir di pemukiman warga dan genangan di bawah underpass Cibaduyut. Hampir tiap hujan, underpass Cibaduyut kan selalu tergenang dan arus lalu lintas pun terhambat,” ungkap Tri.
Tim Pentahelix dan para relawan berhasil mengangkat lebih dari 20 ton sampah dari saluran drainase yang langsung diangkut menggunakan tiga unit truk DLH Kabupaten Bandung dan dari Dinas SDA Jabar.
Kendati demikian, volume sampah yang masih cukup banyak membuat petugas harus mengemasnya kembali ke dalam karung sembari menunggu armada truk tambahan datang untuk melakukan pengangkutan lanjutan.
Tak hanya itu,H.Tri juga memberikan apresiasi tinggi atas kehadiran dan komitmen nyata jajaran pemerintah dari berbagai tingkatan, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota,TNI-Polri hingga Pemprov Jabar.
Kolaborasi yang terjalin dalam penanganan banjir ini diharapkan dapat terus berkesinambungan demi mewujudkan kawasan perbatasan yang aman, bersih, dan bebas dari ancaman banjir.
“Kami juga secara khusus menyampaikan terima kasih dan mengapresiasi khusus kepada para relawan Prima Citeureup, MUI Desa Citerep, Forkopimcam Dayeuhkolot yang selalu hadir dan berkontribusi dalam setiap penanganan banjir di wilayah Dayeuhkolot,” tuturnya.
H.Tri berharap kolaborasi lintas sektoral ini dapat memberikan dampak yang signifikan dalam upaya penanganan banjir di wilayah, baik di wilayah Kota Bandung maupun di Kabupaten Bandung,” ujar Tri Rahmanto.
Sementara itu, Camat Dayeuhkolot,Drs Asep Suryadi M.K.P saat ditemui di lokasi menegaskan bahwa akar permasalahan utama dari banjir berulang di wilayah perbatasan ini adalah tumpukan sampah di sungai dan saluran drainase.
Akibatnya, sampah yang menumpuk di sungai bendungan situtarate dan saluran drainase kemudian memicu pendangkalan sehingga aliran air tidak dapat tertampung hingga akhirnya meluap ke jalan dan membanjiri pemukiman warga.
“Melalui kegiatan ini, saya mendorong pentingnya kolaborasi lintas sektor yang tidak hanya melibatkan Pemerintah Kabupaten Bandung beserta jajarannya, tetapi juga kesadaran aktif dari masyarakat luas,” ungkap Camat Asep Suryadi.
Ia juga mengingatkan masyarakat juga dapat ikut berkontribusi untuk mencegah banjir. Caranya, minimal dengan tidak membuang sampah ke sungai agar siklus banjir dapat diputus dan kebersihan lingkungan dapat terjaga.
“Penanganan banjir ini butuh kolaborasi dan sinergi semua pihak. Tugas penanganan banjir bukan hanya tugas pemerintah dan pentahelix, tapi kita semua juga memiliki tanggung jawab yang sama,” ungkapnya. (**)
Yans.























