Bandung – YUTELNEWS.com// Program Studi Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), gelar visiting practitioner dengan menghadirkan Michel GM Maas, seorang penulis dan jurnalis dari Belanda, pada Selasa 2 Juni 2026 bertempat di Gedung Nu’man Soemantri UPI.
Michel GM Maas dihadapan para dosen, perwakilan Bandung Heritage, dan perwakilan MGMP Sejarah tampil membawakan buku karyanya yang berjudul,
“De Gelogen Kolonie: Naar Indonesië om Indië te vergeten” (Koloni yang Dusta: Pergi ke Indonesia untuk Melupakan Hindia).
Buku yang diterbitkan oleh penerbit Atlas Contact ini membahas tentang bagaimana bayangan masa lalu kolonialisme Belanda yang masih terus membayangi dan membentuk cara pandang masyarakat Belanda terhadap Indonesia.
Michel Maas seorang mantan jurnalis dan koresponden koran de Volkskrant yang pernah tinggal selama 18 tahun di Indonesia berhasil menyuguhkan karya yang berbeda, perpaduan antara memoar pribadi (termasuk pengalaman sang ayah yang terlibat dalam Perang Kemerdekaan) dengan reportase kritis mengenai realitas Indonesia modern. Maas menyoroti sikap masyarakat Belanda yang sering kali masih terjebak dalam romantisme kolonial dan keengganan mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Menurut Maas, masyarakat Belanda sering meromantisasi istilah “Indië” (Hindia Belanda) sebagai tanah eksotis yang damai, indah, dan penuh kenangan manis. Namun, Maas menegaskan bahwa romantisasi tersebut menutupi fakta kekerasan, eksploitasi, pembakaran desa, dan luka mendalam akibat penjajahan. Melalui bukunya itu, Maas mengajak warga Belanda untuk menghapus imajinasi tentang “fantasieland” (negeri khayalan).
Maas juga mengkritik ketidakpastian Historis. Dimana Belanda secara hukum masih sulit mengakui sepenuhnya 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan resmi Indonesia. Karenanya, Maas menyoroti bahwa tidak ada “sejarah kolonial yang setara dan disepakati bersama” (shared history) antara penjajah dan yang dijajah. Dari seorang warga Belanda yang datang dengan bias pemikiran Barat, Maas berhasil “membunuh sisi kolonialis” dalam dirinya. Ia menghargai Indonesia Modern. Ia menggeser fokus dari masa lalu kolonial ke realitas Indonesia saat ini—sebuah negara yang penuh dinamika, kontras, keindahan, sekaligus perjuangan politik yang rumit.
Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed, guru besar senior pada Program Studi Pendidikan Sejarah dan Pendidikan IPS UPI yang hadir dalam diskusi itu, mengapresiasi presentasi Michel Maas. Menurut Prof. Nana, pandangan Maas dalam buku yang dipresentasikannya itu tidak berbeda antara penulisan Sejarah Indonesia pasca kemerdekaan dengan prakemedekaan alias zaman kolonial. Keduanya meromantisasi tertib sosial kultural politik mengenai penjajahan.
Pemerintah kolonial berusaha menampilkan kebijakannya berguna untuk rakyat terjajah di satu sisi dan di sisi lainnya menegasikan kehidupan masyarakat terjajah yang harus diberadabkan.
Perlawanan rakyat terjajah dianggap sebagai tindakan barbar. Maka lahirnya kebijakan politik etis adalah salah satu cara mengagungkan keberhasilan kolonial. Parahnya, “keberhasilan politik etis yg melahirkan homines novi atau kaum terpelajar pribumi” dikapitalisasi oleh Pemerintah pascakemerdekaan dalam penulisan sejarah Indonesia yg diklaim sebagai indonesiasentris, tetapi kenyataannya masih Belanda sentris ungkap Prof. Nana.
Michel Maas mendekonstruksi itu. Dengan meminjam perspektif Jacques Derrida, dia mencoba membongkar perspektif kolonial dengan melihat kaum penjajah bukan sebagai the other dalam pandangan ktitis postmodernism dan postcolonial. Mereka adalah the center dan punya peran penting dalam perjalanan sejarah bangsanya, ungkap pakar Pendidikan IPS ini.
Menurut Prof. Nana Supriatna yang juga pakar dan penulis aktif yang banyak mengkaji metode pengajaran inovatif, sejarah lokal, dan pedagogi kreatif ini, karya Michel Maas menjadi sangat penting tidak hanya sebagai kritik dan menelanjangi pemerintah kolonial, melainkan juga sebagai bahan refleksi bangsa Indonesia dalam melihat sejarah bangsanya.
Harus kita akui, cara pandang bangsa kita pasca kolonial yang kerap ikut-ikutan meromantisasi keagungan kolonial sekaligus kemajuan dan peradaban Barat malah melahirkan mental inlander. Cirinya adalah bangsa yang tidak pede dengan warisan sejarah dan budayanya sendiri.
Jika Michael Maas sebagai orang Belanda sendiri menegasikan politik dan kultur penjajahan, mengapa kita sebagai bangsa merdeka malah belum bisa keluar dari mental jajahan yang kerap membanggakan simbol kolonial dalam kehidupan kontemporer kita, pungkas Prof. Nana***
Yans.

















