Pergantian Pucuk Pimpinan BGN: Momentum Pembenahan Program Makan Bergizi Gratis
Pergantian estafet kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi sorotan penting, terutama dalam upaya membenahi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini kerap diterpa berbagai persoalan. Penunjukan Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN yang baru, menggantikan Dadan Hindayana, dinilai sebagai langkah strategis yang sarat harapan.
Pengamat komunikasi politik, Emrus Sihombing, mengungkapkan optimismenya terhadap figur Nanik S Deyang. Ia menilai latar belakang Nanik yang kuat di bidang investigasi dan komunikasi publik merupakan modal berharga untuk melakukan audit dan reformasi menyeluruh terhadap sistem pelaksanaan MBG. Selama ini, berbagai masalah dilaporkan muncul dari tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang menjadi garda terdepan distribusi program.
“Masalah di BGN kemarin itu kombinasi dari dua hal, yakni manajemen internal yang korosif dan komunikasi publik yang defensif atau bahkan menutup-nutupi realitas,” ujar Emrus. Ia menambahkan bahwa kemampuan investigatif Nanik S Deyang akan sangat berguna untuk mengidentifikasi titik-titik lemah dalam pelaksanaan program. Hal ini mencakup dugaan kelalaian, penyimpangan prosedur, hingga persoalan distribusi makanan yang berujung pada berbagai kasus di lapangan.
Keunggulan Nanik S Deyang: Investasi dan Komunikasi Publik
Nanik S Deyang tidaklah asing dengan BGN. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Posisi ini memberinya pengalaman langsung dalam mengawasi pelaksanaan Program MBG dan menangani berbagai persoalan yang timbul. Lebih lanjut, ia pernah memimpin pembentukan tim investigasi untuk menelusuri kasus keracunan yang menimpa para penerima manfaat MBG, melibatkan berbagai lembaga terkait.
Sebelum terjun ke ranah pemerintahan, Nanik S Deyang memiliki rekam jejak panjang di dunia jurnalistik, bahkan hingga mencapai posisi pemimpin media. Kombinasi unik antara pengalaman di bidang komunikasi publik, investigasi kelembagaan, dan pengawasan lapangan inilah yang membuat banyak pihak yakin bahwa Nanik memiliki kapasitas memadai untuk memimpin upaya audit dan reformasi internal BGN.
Mendesak Audit Menyeluruh dan Pengawasan Berbasis Publik
Menyikapi penunjukan ini, Emrus Sihombing mendorong Kepala BGN yang baru untuk segera mengambil langkah konkret. Audit menyeluruh terhadap SPPG menjadi prioritas utama. Evaluasi ini tidak boleh hanya berhenti pada aspek administratif, melainkan harus merambah seluruh rantai distribusi makanan, pengawasan mutu, hingga mekanisme pertanggungjawaban di lapangan.
“Langkah audit tersebut penting untuk memulihkan kepercayaan publik yang sempat terganggu akibat berbagai kasus yang mencuat dalam pelaksanaan program MBG,” tegas Emrus.
Selain audit internal, Emrus juga mengusulkan pembentukan sistem pengawasan yang lebih partisipatif. Ia menyarankan agar BGN membuka kanal pelaporan yang transparan, di mana masyarakat, seperti orang tua murid dan guru, dapat secara langsung melaporkan jika menemukan makanan yang tidak layak konsumsi atau gizi buruk.
- Sistem Pengawasan Berbasis Publik:
- Membuka kanal pelaporan yang terbuka.
- Memungkinkan orang tua murid, guru, atau masyarakat untuk melaporkan temuan makanan basi atau gizi buruk.
- Melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengawasan kualitas makanan.
Pendekatan ini dinilai akan memperkuat transparansi dan mempercepat deteksi masalah sebelum dampaknya meluas.
Reformasi Internal: Kunci Efektivitas Program
Lebih jauh, Emrus Sihombing meyakini bahwa kemampuan investigatif Nanik S Deyang tidak hanya berguna untuk menemukan akar masalah, tetapi juga dapat menjadi instrumen reformasi internal BGN. Perbaikan program MBG, menurutnya, harus dimulai dari pembenahan tata kelola organisasi agar masalah serupa tidak terulang di masa depan.
BGN memerlukan budaya kerja yang lebih terbuka, responsif terhadap kritik, dan berorientasi pada solusi lapangan. “Jangan lagi ada narasi yang indah-indah di media, tapi realitas di lapangan berbau dan tidak layak konsumsi,” serunya.
Reformasi internal dianggap sebagai syarat fundamental agar program yang menyerap anggaran besar ini dapat berjalan efektif dan tepat sasaran, memberikan manfaat maksimal bagi anak-anak Indonesia yang membutuhkan.
Latar Belakang Pergantian Pimpinan
Pergantian pucuk pimpinan BGN ini terjadi menyusul keputusan Presiden Prabowo Subianto yang secara resmi mengganti jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional. Kepala BGN Dadan Hindayana beserta dua wakilnya, Lodewyk Pusung dan Soni Sanjaya, dicopot dari jabatannya.
Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam sebuah konferensi pers di Istana Negara, Jakarta. Pemerintah juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi para pimpinan yang diganti dalam membangun fondasi awal lembaga tersebut.
Sebagai pengganti, Presiden menunjuk Nanik Sudaryati Deyang, atau yang akrab disapa Nani S. Deyang, sebagai Kepala BGN yang baru. Posisi wakil kepala kini diisi oleh Agustina Arumsari dan Mayjen Eddy Trenggono. Pergantian ini, khususnya dari Dadan Hindayana ke Nani S. Deyang, menjadi perhatian serius sebagai langkah awal untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap Program Makan Bergizi Gratis.










