Vicky Prasetyo Berkurban untuk Tiga Wanita: Zaskia, Angel, Kalina

Vicky Prasetyo Berkurban Atas Nama Ibu Mantan Pasangan: Bentuk Penghormatan dan Doa di Hari Raya Idul Adha

Dalam momen penuh makna perayaan Idul Adha tahun ini, presenter dan penyanyi Vicky Prasetyo mengungkapkan niatnya yang unik dalam ibadah kurbannya. Ia mengaku telah meniatkan penyembelihan hewan kurban untuk ibu dari beberapa mantan pasangannya. Tindakan ini bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah bentuk penghormatan dan doa yang mendalam, terlepas dari status hubungan yang telah berakhir.

Vicky menjelaskan bahwa meskipun hubungan dengan seorang istri bisa saja berakhir, sosok mertua tetap memiliki tempat istimewa di hatinya. “Ya memang mungkin istri bisa jadi mantan, tapi kalau mertua, walaupun sebutannya mantan, di hati kita dia tetap menjadi ibu kita,” ujar Vicky Prasetyo saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pria yang memiliki nama asli Hendrianto Prasetyo ini kemudian membeberkan beberapa nama ibu mantan pasangan yang ia niatkan dalam ibadah kurbannya. Nama-nama tersebut mencakup sosok-sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupannya, bahkan ketika hubungan asmara telah kandas.

“Untuk ibunya Zaskia Gotik, ya si Emak. Terus juga untuk mamanya Angel Lelga, serius ini mamanya Angel Lelga. Terus juga untuk almarhumah ibunya Kalina. Saya salurkan kurbannya, kita kirimkan doa dan lain-lain,” ungkapnya dengan tulus.

Tak berhenti di situ, Vicky juga menyertakan ibunda dari mantan istri pertamanya, Rama Nuraini, dalam niat kurbannya. Kedekatan emosional dengan sosok ini terasa kuat, mengingat ia juga merupakan nenek dari anak-anak Vicky.

“Sudah diniatin aja. Kadang ditulis namanya di kupon kurban, ya sudah. Gak perlu kita klarifikasi lagi ke mereka karenakan ini niatnya baik,” jelas Vicky.

Lebih lanjut, Vicky menegaskan bahwa tindakannya ini bukan untuk mencari perhatian publik atau merendahkan pihak manapun. Baginya, ini adalah murni ibadah dan bentuk penghargaan. “Lalu kita kabarin, kesannya malah kayak nyari sorotan atau apa. Lebih baik langsung jalankan saja,” sambungnya.

Vicky berpandangan bahwa niat berkurban atas nama ibu dari para mantan pasangan adalah sebuah bentuk penghormatan dan doa yang tulus. Meskipun ia mengakui bahwa hubungan dengan beberapa mantan pasangannya tidak selalu berjalan mulus hingga saat ini, ia tetap membuka diri untuk komunikasi yang lebih baik.

“Tapi kalau nanti berkomunikasi pun ya sudahlah, aku juga pengen ngerembuk lah kita sama-sama lah,” ujar Vicky Prasetyo, menunjukkan sikap kedewasaan dan keinginan untuk menjaga silaturahmi, meskipun dalam konteks yang berbeda.

Tindakan Vicky Prasetyo ini memunculkan berbagai perspektif tentang bagaimana seseorang dapat merayakan nilai-nilai Idul Adha. Kurban, sebagai simbol pengorbanan dan ketaatan, dapat diinterpretasikan dalam berbagai cara. Bagi Vicky, ia memilih untuk memperluas makna pengorbanan tersebut dengan mendoakan dan menghormati sosok-sosok ibu yang pernah menjadi bagian dari lingkar kehidupannya, melampaui batas-batas hubungan percintaan yang telah usai.

Hal ini menunjukkan bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan selebriti, terdapat pula upaya untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang bagaimana kita berbagi kebaikan dan menjaga hubungan baik dengan sesama, bahkan dengan mereka yang memiliki masa lalu bersama.

Vicky Prasetyo, dengan gayanya yang khas, kembali memberikan warna tersendiri dalam perayaan Idul Adha. Niat tulusnya untuk mendoakan para ibu mantan pasangannya menjadi pengingat bahwa kebaikan dapat hadir dalam berbagai bentuk, dan penghormatan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, sekecil apapun itu. Ia membuktikan bahwa di balik citra publiknya, terdapat kepedulian dan keinginan untuk melakukan kebaikan, bahkan kepada mereka yang mungkin telah lama terpisah.

Pengakuan Vicky ini juga membuka ruang diskusi mengenai pentingnya menghargai peran keluarga besar dalam sebuah hubungan. Meskipun hubungan antara dua individu bisa berakhir, ikatan yang terbentuk dengan keluarga, terutama orang tua, seringkali memiliki makna yang lebih dalam dan abadi. Niat kurban ini bisa dilihat sebagai upaya untuk menjaga ikatan spiritual dan mendoakan kesejahteraan mereka yang pernah menjadi bagian dari keluarganya.

Secara keseluruhan, tindakan Vicky Prasetyo di momen Idul Adha ini bukan hanya sekadar berita sensasional, melainkan sebuah refleksi tentang nilai-nilai kemanusiaan, penghormatan, dan doa yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menunjukkan bahwa perayaan keagamaan dapat menjadi momentum untuk merangkul kebaikan dan menyebarkan energi positif, bahkan kepada orang-orang dari masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *