Arus Keluar Dana Asing Rp 1,37 T: IHSG Terancam Koreksi

Arus Keluar Dana Asing Berlanjut, IHSG Masih Berpotensi Menguat dengan Catatan

Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 1,11 persen pada perdagangan Selasa, Juni 2026, aksi jual oleh investor asing masih terus berlanjut. Data mencatat, investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) sekitar Rp 1,37 triliun pada hari tersebut. Arus keluar dana asing ini menjadi sinyal bahwa pelaku pasar global masih memilih untuk berhati-hati terhadap aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.

Analisis Kinerja IHSG dan Sentimen Investor Asing

Penguatan IHSG yang terjadi belum sepenuhnya didukung oleh aliran dana asing yang kembali masuk ke pasar domestik. Hal ini diungkapkan oleh Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas. “IHSG kemarin ditutup naik 1,11 persen, tetapi masih disertai net sell asing sekitar Rp 1,37 triliun. IHSG berpotensi kembali terkoreksi hari ini,” ujar Fanny dalam riset hariannya, Rabu, Juni 2026.

Fanny mencatat bahwa saham-saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing antara lain TPIA, ASII, MAPI, BUVA, dan BMRI. Tekanan terhadap pasar ini sebagian besar berasal dari ketidakpastian perkembangan konflik di Timur Tengah. Investor global tengah mencermati laporan mengenai terhentinya komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat melalui mediator, yang secara langsung memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Kondisi ketidakpastian pasokan energi ini turut menopang harga minyak dunia yang masih bertahan di level tinggi. Bagi pasar keuangan global, kenaikan harga energi berpotensi memicu tekanan inflasi yang lebih lanjut dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi secara keseluruhan.

Di sisi lain, pasar saham Amerika Serikat justru menunjukkan performa yang mengesankan, dengan kembali mencetak rekor. Indeks S&P 500 tercatat naik 0,13 persen ke level 7.609,78, sementara Dow Jones menguat 0,45 persen. Namun, sentimen positif dari Wall Street ini ternyata belum cukup untuk mendorong investor asing kembali agresif masuk ke pasar Indonesia.

BNI Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran support 6.000-6.100 dan resistance 6.200-6.300. Pelaku pasar diperkirakan masih akan menunggu perkembangan terbaru dari Timur Tengah serta arah aliran modal asing sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.


Pekerja berada di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. – (/Prayogi)

Peluang Rebound IHSG Masih Terbuka dengan Kewaspadaan

Sementara itu, Pengamat pasar modal Reydi Octa melihat adanya peluang penguatan lanjutan IHSG dalam jangka pendek. Namun, ia menekankan bahwa volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi.

“Selama tidak ada sentimen negatif baru dari dalam negeri maupun global, menurut dia, peluang IHSG bergerak rebound atau berbalik menguat masih terbuka,” ujar Reydi.

Namun demikian, Reydi mengingatkan pentingnya kewaspadaan dari para investor. “Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai aksi profit taking (ambil untung) setelah penguatan signifikan sehingga pergerakan IHSG kemungkinan masih akan berada dalam pola konsolidasi dengan kecenderungan positif,” tambahnya.

Reydi mengamati bahwa investor asing (foreign investor) saat ini masih cenderung bersikap hati-hati dan belum sepenuhnya agresif masuk ke pasar saham Indonesia. Meskipun tekanan jual mulai mereda, menurutnya, investor asing masih mencermati beberapa faktor krusial, antara lain:

  • Stabilitas Kurs Rupiah: Pergerakan nilai tukar rupiah menjadi salah satu indikator penting bagi investor asing dalam menilai risiko investasi.
  • Arah Suku Bunga Global: Kebijakan suku bunga oleh bank sentral global dapat memengaruhi aliran modal dan daya tarik aset.
  • Perkembangan Reformasi Pasar Modal Indonesia: Kemajuan dalam reformasi pasar modal dapat meningkatkan kepercayaan investor.

“Fokus investor asing saat ini lebih banyak pada saham-saham likuid dengan fundamental kuat,” tegas Reydi.

Reydi menilai penguatan IHSG pada perdagangan Selasa, Juni 2026, didorong oleh kombinasi membaiknya sentimen global dan faktor teknikal. Setelah tekanan jual yang cukup besar dalam beberapa waktu terakhir, ia menilai pelaku pasar memanfaatkan valuasi saham-saham unggulan yang sudah relatif menarik. “Selain itu, meredanya kekhawatiran investor terhadap sejumlah sentimen eksternal turut meningkatkan minat risiko di pasar saham,” pungkas Reydi.

Terkait sektor penopang penguatan IHSG, Reydi menilai bahwa kontribusi positif terutama berasal dari sektor perbankan dan saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar yang memiliki bobot signifikan di IHSG. Sektor-sektor ini mampu memberikan dorongan yang berarti terhadap penguatan indeks secara keseluruhan.

Rekomendasi Saham di Tengah Potensi Koreksi

Di tengah potensi koreksi pasar yang masih membayangi, BNI Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk dicermati. Saham-saham ini memiliki peluang teknikal untuk melanjutkan penguatan apabila didukung oleh sentimen pasar yang kondusif. Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain:

  • DSSA
  • LSIP
  • JPFA
  • KLBF
  • ESSA
  • BIPI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *