IHSG Menguat Tipis di Tengah Arus Jual Bersih Investor Asing
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada Selasa lalu ditutup dengan catatan positif, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membukukan kenaikan sebesar 1,11% dan bertengger di level Rp 6.195. Meskipun demikian, momentum positif ini dibayangi oleh aktivitas jual bersih (net sell) jumbo yang dilakukan oleh investor asing, dengan total mencapai Rp 1,39 triliun.
Analisis lebih mendalam terhadap transaksi kemarin menunjukkan bahwa investor asing membukukan pembelian saham senilai Rp 10,13 triliun, berbanding terbalik dengan aksi jual yang mencapai Rp 11,53 triliun. Komposisi investor pada hari itu menunjukkan dominasi investor domestik yang menguasai 57% dari total transaksi, sementara investor asing menyumbang 43%.
Saham-saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing pada perdagangan kemarin meliputi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai jual Rp 253,7 miliar. Posisi selanjutnya ditempati oleh PT Astra International Tbk (ASII) yang dilepas senilai Rp 228,7 miliar, diikuti oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp 156,1 miliar, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) senilai Rp 106,9 miliar.
Jika melihat tren sejak awal tahun, investor asing tercatat telah melakukan aksi jual bersih secara kumulatif senilai Rp 55,36 triliun di pasar saham domestik.
Beberapa saham yang dilepas oleh investor asing justru merupakan saham-saham yang berhasil mencatatkan diri sebagai top gainers pada perdagangan hari yang sama. Contohnya adalah TPIA yang ditutup melonjak 6,44% ke level Rp 1.900. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga menunjukkan performa impresif dengan lompatan 24,85% menyentuh batas auto reject atas (ARA) di harga Rp 4.120. Sementara itu, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) melesat 9,87% ke posisi Rp 835.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), volume transaksi perdagangan sepanjang Selasa lalu mencapai 31,15 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,57 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 10.918 triliun, dengan total nilai transaksi sebesar Rp 25,38 triliun. Perdagangan kemarin diwarnai oleh penguatan 281 saham, 389 saham mengalami koreksi, dan 147 saham lainnya stagnan.
Faktor Pendorong Penguatan IHSG
Menurut Nafan Aji Gusta Utama, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, penguatan IHSG kemarin dipicu oleh kombinasi beberapa faktor. Salah satunya adalah pemberlakuan kebijakan ekspor satu pintu yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan kepastian regulasi dan mendorong efisiensi.
Selain itu, kebangkitan saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu juga turut menjadi penopang ketahanan indeks. Sektor energi dan komoditas yang memiliki keterkaitan dengan bisnis Prajogo menunjukkan performa yang solid.
Membaiknya kondisi makroekonomi domestik juga memberikan kontribusi positif. Tingkat inflasi yang tetap terkendali di angka 0,28% secara bulanan, serta kembalinya aktivitas manufaktur Indonesia ke zona ekspansi yang tercermin dari indeks PMI manufaktur S&P Global, turut menopang sentimen pasar.
Meredanya Tekanan Rebalancing Global
Namun, Nafan menilai bahwa faktor terbesar yang mendorong penguatan pasar adalah meredanya tekanan dari proses rebalancing indeks global, khususnya MSCI. Situasi ini memicu technical rebound pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya mengalami tekanan jual akibat antisipasi keluarnya dari indeks MSCI.
“Tekanan dari rebalancing MSCI sudah mereda. Di sisi lain, implementasi DSI yang mulai berlaku sejak 1 Juni 2026 memberikan kepastian regulasi jangka panjang sehingga menjadi sentimen positif bagi pasar,” ujar Nafan.
Daftar 10 Saham Paling Banyak Dilepas Investor Asing pada Selasa, Juni 2026:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Rp 253,7 miliar
- PT Astra International Tbk (ASII): Rp 228,7 miliar
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Rp 156,1 miliar
- PT Petrosea Tbk (PTRO): Rp 106,9 miliar
- PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI): Rp 88,9 miliar
- PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA): Rp 72,2 miliar
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Rp 71,9 miliar
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Rp 68,7 miliar
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 58,7 miliar
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Rp 48,7 miliar
Prospek Saham Prajogo Pasca-Didepak dari MSCI
Fenomena lonjakan saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu, meskipun telah dikeluarkan dari indeks MSCI, dinilai sebagai respons pasar yang wajar. Tiga saham yang dimaksud adalah BREN, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), yang secara resmi keluar dari indeks MSCI pada rebalancing Mei dan efektif berlaku mulai Juni 2026.
Nafan menjelaskan fenomena ini dapat diinterpretasikan melalui pola sell on rumor, buy on fact. Investor telah mengantisipasi dampak keluarnya saham-saham tersebut dari MSCI, sehingga tekanan jual telah terjadi lebih awal. Setelah ketidakpastian mereda, pelaku pasar kembali fokus pada prospek fundamental masing-masing emiten. Koreksi harga yang terjadi sebelumnya juga membuat beberapa saham dinilai berada pada level valuasi yang lebih menarik.
Nafan memandang prospek jangka panjang BREN tetap positif. Perusahaan ini merupakan salah satu pemain utama di sektor energi panas bumi, yang sejalan dengan tren transisi energi global.
Sementara itu, prospek BRPT akan sangat bergantung pada perbaikan margin bisnis di sektor petrokimia serta stabilitas arus kas dari sektor energi. Untuk CUAN, ekspansi ke sektor mineral kritis dan logistik batu bara membuka peluang pertumbuhan yang signifikan, meskipun pergerakan sahamnya masih cenderung volatil.
Adapun TPIA dinilai tetap memiliki daya tarik kuat melalui strategi transformasi bisnis yang berfokus pada integrasi sektor petrokimia, energi, dan infrastruktur.
Lonjakan nilai saham-saham Prajogo Pangestu juga mengantarkannya kembali menduduki posisi orang terkaya nomor satu versi Forbes Real Time Billionaires. Berdasarkan data Forbes, kekayaan Prajogo tercatat mencapai US$ 18,1 miliar atau sekitar Rp 323,68 triliun. Posisi ini direbut kembali dari pemilik Grup Djarum, R. Budi Hartono, yang saat ini memiliki kekayaan sekitar US$ 14,9 miliar. Di bawah mereka, taipan batu bara Low Tuck Kwong menempati posisi ketiga dengan total kekayaan US$ 14,3 miliar.









