
Fenomena lulusan perguruan tinggi yang bekerja di luar bidang studinya merupakan isu kompleks yang perlu dilihat dari berbagai sudut pandang. Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, berpendapat bahwa fenomena ini harus disikapi secara proporsional. Ada dua faktor utama yang memengaruhinya: perubahan dinamis kebutuhan dunia kerja dan tantangan yang masih dihadapi oleh ekosistem industri nasional.
Menurut Lalu, ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan formal dengan pekerjaan yang dijalani tidak serta merta menjadi indikator kegagalan sistem pendidikan tinggi. Perkembangan lanskap pekerjaan modern seringkali menuntut kompetensi yang bersifat lintas disiplin, yang berarti kemampuan tersebut dapat diterapkan di berbagai bidang ilmu.
Fleksibilitas Dunia Kerja dan Kebutuhan Lintas Disiplin
Lalu Hadrian Irfani menjelaskan bahwa karakteristik dunia kerja saat ini memang cenderung semakin fleksibel. Hal ini mendorong banyak lulusan untuk mengejar karier di sektor yang berbeda dari bidang studi yang mereka tempuh selama perkuliahan.
“Di satu sisi, dunia kerja saat ini semakin fleksibel sehingga banyak lulusan berpindah ke sektor yang berbeda karena kompetensi yang dibutuhkan bersifat lintas disiplin. Oleh karena itu, kesuksesan lulusan tidak semata-mata diukur dari kesesuaian antara jurusan dan pekerjaannya,” ujar Lalu.
Implikasinya, kesuksesan seorang lulusan tidak bisa lagi hanya diukur dari seberapa lurus pekerjaannya mengikuti alur jurusannya di perguruan tinggi. Kemampuan adaptasi, keterampilan lunak (soft skills), dan kompetensi yang dapat ditransfer menjadi faktor penting yang dihargai oleh industri.
Tantangan Ekosistem Industri Nasional
Meskipun demikian, fenomena ini juga tidak dapat dilepaskan dari realitas terbatasnya daya serap lapangan kerja di beberapa sektor industri nasional. Ada bidang-bidang studi tertentu yang lulusannya menghadapi keterbatasan peluang kerja yang sesuai dengan keahlian spesifik mereka.
Lalu Hadrian Irfani menyoroti beberapa contoh bidang studi seperti pertanian, matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA), hingga astronomi. Bidang-bidang ini masih bergulat dengan tantangan dalam menyediakan lapangan kerja yang memadai bagi para lulusannya.
“Namun, kami juga melihat adanya tantangan pada ekosistem industri nasional. Untuk beberapa bidang seperti pertanian, MIPA, dan astronomi, daya serap lapangan kerja yang sesuai dengan kompetensi lulusan memang masih terbatas,” jelasnya.
Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pengembangan pendidikan tinggi dengan penguatan sektor industri. Tanpa dukungan industri yang kuat dan mampu menyerap tenaga kerja terampil sesuai bidang keahliannya, maka pengembangan pendidikan tinggi akan terasa kurang optimal.
Pentingnya Penguatan Keterikatan Tiga Pilar Utama
Untuk mengatasi kesenjangan ini, Lalu menekankan bahwa pengembangan pendidikan tinggi harus berjalan seiring dengan penguatan sektor industri, riset, dan inovasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kebutuhan akan tenaga ahli di bidang-bidang yang sebelumnya memiliki daya serap rendah.
“Ini menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan tinggi perlu diiringi dengan penguatan industri, riset, dan inovasi agar kebutuhan tenaga ahli di bidang-bidang tersebut semakin meningkat,” katanya.
Lebih lanjut, Lalu Hadrian Irfani mendorong penguatan keterikatan yang lebih erat antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan dunia industri (DUDI). Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang kerja yang lebih luas bagi lulusan, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk terus mengembangkan keahlian sesuai dengan bidang studi yang telah mereka tekuni.
Keterikatan ini dapat diwujudkan melalui berbagai program, seperti magang industri yang terstruktur, proyek riset bersama, pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, serta fasilitasi kewirausahaan bagi lulusan.
Data Ketidakselarasan Jurusan dan Pekerjaan
Fenomena ketidaksesuaian pekerjaan dengan latar belakang pendidikan, yang dikenal sebagai horizontal mismatch, memang menjadi kenyataan yang tidak dapat dipungkiri di Indonesia. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidaksebandingan antara jumlah lulusan dari program studi tertentu dengan ketersediaan lapangan kerja yang sesuai.
Terdapat beberapa temuan mengenai program studi yang lulusannya paling selaras dan tidak selaras dengan pekerjaan saat ini.
Pada jenjang sarjana di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), program studi Astronomi tercatat memiliki tingkat ketidakselarasan yang paling tinggi, mencapai 75,64 persen. Ini berarti mayoritas lulusan Astronomi tidak bekerja sesuai dengan bidang studinya.

Selanjutnya, program studi Sains Atmosfer & Keplanetan menyusul dengan tingkat ketidakselarasan pekerjaan sebesar 74,03 persen.
Program studi Teknologi & Manajemen Perikanan Tangkap juga menunjukkan angka ketidakselarasan yang signifikan, yaitu 62,84 persen.
Metereologi menempati urutan keempat dengan tingkat ketidakselarasan yang cukup tinggi, yaitu 62,22 persen.
Data ini mengindikasikan adanya kebutuhan mendesak untuk mengevaluasi kembali relevansi beberapa program studi dengan kebutuhan pasar kerja, serta memperkuat kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri untuk menyerap lulusan sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki. Upaya ini penting demi mengoptimalkan potensi sumber daya manusia Indonesia dan memastikan bahwa investasi dalam pendidikan tinggi memberikan imbal hasil yang maksimal bagi individu maupun negara.
















