AMBON, MALUKU. Yutelnews,com.
“Menanggapi rencana aksi BAM-Indonesia yang akan melaporkan dugaan pelanggaran di Gunung Botak ke Mabes TNI pada Senin, 31/8/2026, pihak terkait Kodam XV/Pattimura membantah tegas seluruh tuduhan yang disampaikan. Delapan poin tuntutan yang dimuat dalam poster aksi dinilai tidak berdasar dan tidak disertai bukti yang valid. Sabtu, 29/8/2026.
Sumber internal menegaskan bahwa Satgas PPH Masariku XV/Pattimura yang bertugas di kawasan Gunung Botak selalu berpedoman pada prosedur hukum, disiplin militer, serta prinsip kemanunggalan TNI–Rakyat. “Anggota Satgas justru hadir untuk melakukan penertiban, pengamanan, dan memberikan rasa aman kepada masyarakat. Setiap tindakan di lapangan dilakukan secara terukur, profesional, tidak tebang pilih, dan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum lainnya,” ungkap sumber tersebut.
Pihak TNI tidak menolak penyampaian aspirasi secara demokratis. Namun yang ditekankan. setiap tuduhan harus disertai bukti yang jelas dan diajukan melalui mekanisme resmi, bukan narasi sepihak yang dibangun di ruang publik tanpa verifikasi. “Jika ada bukti konkret terkait pelanggaran, silakan laporkan lewat jalur resmi agar dapat diproses sesuai hukum. Jangan bangun opini yang mencederai nama baik institusi tanpa dasar yang kuat,” tambahnya.
Komitmen menjaga netralitas dan profesionalitas tetap dipegang teguh. Penindakan terhadap aktivitas pertambangan ilegal di kawasan Gunung Botak akan terus dilakukan sesuai aturan yang berlaku, demi melindungi hak masyarakat sekaligus menegakkan kedaulatan hukum di wilayah tersebut.
Aksi BAM-Indonesia yang direncanakan digelar di Mabes TNI Jakarta Selatan pada 31/8/2026. dengan tema “Panglima TNI Jangan Biarkan Gunung Botak Jadi Surga Bagi Oknum” menjadi momentum yang perlu ditanggapi secara berimbang. Masyarakat berhak mengetahui fakta, namun narasi yang dibangun harus berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan hukum.
Aspirasi boleh disampaikan, tuduhan harus dibuktikan. Publik berhak mendapat kebenaran, bukan rekayasa narasi yang memecah belah kepercayaan terhadap institusi yang bertugas di garis terdepan.
(.TIM,A1 TERPERCAYA.)






































