7 Kontroversi Dadan Hindayana: Dari Golf Bencana hingga Motor Listrik MBG

Perombakan Besar di Badan Gizi Nasional: Dadan Hindayana Dicopot, Nanik Sudaryati Deyang Pimpin Lembaga

Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas dengan merombak jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja lembaga tersebut. Dalam keputusan terbaru, posisi Kepala BGN yang sebelumnya dijabat oleh Dadan Hindayana, resmi digantikan oleh wakilnya, Nanik Sudaryati Deyang. Perombakan ini juga mencakup pemberhentian dua wakil kepala BGN lainnya, menandai dimulainya babak baru kepemimpinan di lembaga yang bertanggung jawab mengawal berbagai program strategis di bidang gizi nasional.

Pengumuman resmi mengenai perombakan ini disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, dalam sebuah konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa malam, Juni 2026. Prasetyo Hadi menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil pertimbangan langsung dari Presiden. “Maka pada hari ini, Selasa, tanggal 2 Juni tahun 2026, Bapak Presiden mengambil keputusan untuk melakukan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional,” ujar Prasetyo.

Pergantian pimpinan BGN ini menjadi sorotan publik, terutama karena terjadi di tengah berlanjutnya evaluasi terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo. Program ini telah mendapat perhatian luas, baik dari segi pencapaian maupun berbagai tantangan dalam pelaksanaannya di lapangan. Dengan susunan kepemimpinan yang baru, pemerintah berharap kinerja BGN dapat semakin optimal dalam mendukung keberhasilan program-program prioritas nasional di bidang gizi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sederet Kontroversi yang Mengiringi Masa Jabatan Dadan Hindayana

Selama menjabat sebagai Kepala BGN, Dadan Hindayana kerap menjadi sorotan publik akibat sejumlah pernyataan dan tindakannya yang menimbulkan kontroversi. Masa jabatannya yang relatif singkat, sekitar satu setengah tahun, diwarnai oleh berbagai isu yang memicu perdebatan dan kritik. Berikut adalah beberapa kontroversi yang paling menonjol:

1. Klaim Konsumsi Susu 2 Liter per Hari untuk Tinggi Badan Anak

Salah satu pernyataan Dadan Hindayana yang mengundang reaksi keras adalah klaimnya mengenai konsumsi susu dua liter per hari yang disebutnya berkontribusi pada tinggi badan anak-anaknya. Dadan menyatakan bahwa kedua putra-putrinya memiliki tinggi badan mencapai 181 cm dan 185 cm berkat rutinitas minum susu dua liter setiap hari sejak kecil hingga kelas 2 SMA.

“Jadi tinggi badan bukan cuma masalah genetik, tapi juga asupan gizi yang cukup dan seimbang,” ujar Dadan saat peluncuran pembangunan 1.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan, pada Senin, 26 Mei 2025.

Pernyataan ini segera menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan medis. Dokter ternama, Tan Shot Yen, secara tegas menyatakan bahwa klaim Dadan tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. “Cuma satu komentar saya: S-E-S-A-T!!!!!”, tulis Tan dalam unggahan Instagram Story-nya pada Selasa, 27 Mei 2025, menanggapi pernyataan Dadan.

2. Wacana Serangga sebagai Sumber Protein dalam Menu MBG

Ide Dadan Hindayana untuk memasukkan serangga, seperti ulat sagu, sebagai sumber protein dalam komposisi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi perbincangan hangat. Dadan berargumen bahwa serangga dapat menjadi alternatif menu MBG, terutama di daerah-daerah tertentu yang masyarakatnya sudah terbiasa mengonsumsinya.

Ia menjelaskan bahwa BGN tidak menetapkan standar menu nasional untuk MBG, melainkan hanya standar komposisi gizi. Hal ini memungkinkan setiap daerah untuk menyesuaikan menu dengan potensi sumber daya lokal dan preferensi anak-anak di wilayah tersebut.

“Itu salah satu contoh ya, kalau ada daerah-daerah tertentu yang terbiasa makan seperti itu, itu bisa menjadi menu di situ. Badan gizi ini tidak menetapkan standar menu nasional, tetapi menetapkan standar komposisi gizi,” kata Dadan saat ditemui usai menghadiri Rapimnas Perempuan Indonesia Raya (PIRA) di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 25 Januari 2025.

Ia menekankan bahwa peluang memasukkan menu lokal seperti serangga berkaitan erat dengan ketersediaan protein dari sumber daya lokal dan kesukaan masyarakat setempat. Dadan meminta agar contoh tersebut tidak disalahartikan. “Nah, isi protein di berbagai daerah itu sangat tergantung potensi sumber daya lokal dan kesukaan lokal. Jangan diartikan lain ya,” tegasnya.

3. Keterkaitan Gizi Pemain Sepak Bola dengan Performa Timnas

Dadan Hindayana juga pernah mengeluarkan pernyataan yang mengaitkan kualitas gizi pemain sepak bola Indonesia dengan performa mereka di lapangan. Ia berpendapat bahwa buruknya asupan gizi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia kesulitan meraih kemenangan.

“Jangan heran kalau PSSI sulit menang karena main 90 menit berat. Kenapa? Karena gizinya tidak bagus dan banyak pemain bola lahir dari kampung,” ujarnya saat acara di Pendopo Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, pada Minggu, 23 Maret 2025.

Pernyataan ini mendapat tanggapan serius dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani. Lalu menyayangkan pernyataan Dadan yang dianggap terlalu berlebihan dalam mengaitkan PSSI dengan masalah gizi pemain. “Kepala BGN jangan terlalu lebay menyangkutpautkan PSSI dengan makanan bergizi. Apalagi menyampaikan statement bahwa pemain Indonesia kurang makan bergizi,” ujar Lalu dalam keterangan tertulisnya.

4. Penanganan Kasus Keracunan MBG yang Dianggap Tidak Sensitif

Sejumlah insiden keracunan makanan yang terjadi terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan kekhawatiran publik dan sorotan terhadap BGN. Di tengah polemik ini, muncul pernyataan Dadan Hindayana yang menyebut bahwa kasus keracunan hanya menimpa sebagian kecil siswa sekolah.

Pernyataan ini dianggap tidak peka terhadap kekhawatiran orang tua mengenai kualitas makanan yang disajikan dalam program tersebut. Koalisi Kawal Pendidikan Jakarta menilai bahwa Dadan tidak menunjukkan sensitivitas terhadap persoalan kualitas makanan dalam program MBG.

“Cerita soal keracunan dibecandakan dengan bilang, ‘itu kan cuma sebagian kecil anak-anak yang keracunan’. Itu pernyataan yang sangat luar biasa bodoh dan tidak bertanggung jawab,” ujar anggota Koalisi, Irwan Aldrin, dalam sebuah diskusi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Selasa, 29 April 2025. Menurutnya, penderitaan anak-anak tidak seharusnya direduksi menjadi sekadar angka statistik.

5. Pengadaan Motor Operasional MBG yang Menjadi Viral

Sebuah video yang menampilkan sejumlah sepeda motor berlogo Badan Gizi Nasional (BGN) sempat beredar luas di media sosial, memicu berbagai spekulasi di masyarakat. Menanggapi hal ini, Dadan Hindayana menjelaskan bahwa pengadaan motor tersebut merupakan bagian dari perencanaan anggaran tahun 2025 yang ditujukan untuk mendukung operasional Program MBG, khususnya bagi para Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Pengadaan motor ini memang masuk dalam anggaran 2025. Fungsinya untuk mendukung operasional Kepala SPPG,” ujar Dadan di Jakarta pada Selasa, 7 April 2026.

Dadan merinci bahwa pada akhir tahun 2025, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) telah mengajukan Surat Perintah Membayar (SPM), sehingga anggarannya masuk dalam Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA). Mekanisme ini, sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 84 Tahun 2025, memungkinkan pembayaran dilakukan dalam dua tahap. Hingga batas waktu yang ditentukan, penyedia hanya mampu menyelesaikan 85,01% dari total unit yang dikontrakkan. Sisa dana yang tidak terpakai kemudian dikembalikan ke kas negara.

6. Aktivitas Golf di Tengah Bencana Alam

Salah satu kontroversi yang paling menyita perhatian adalah beredarnya video Dadan Hindayana yang sedang bermain golf di tengah terjadinya bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatra. Aktivitas ini dianggap oleh sebagian publik menunjukkan kurangnya empati terhadap korban bencana.

Menanggapi hal tersebut, Dadan memberikan klarifikasi bahwa acara golf yang ia ikuti merupakan acara alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang bertujuan untuk menggalang dana bagi korban bencana. Ia mengklaim bahwa acara tersebut berhasil mengumpulkan donasi ratusan juta rupiah, sebagian di antaranya dialokasikan untuk korban banjir di Aceh.

“Rp 450 juta (total donasi),” kata Dadan kepada awak media pada Kamis, 18 Desember 2025. Ia merinci bahwa Rp 250 juta dialokasikan untuk beasiswa dan Rp 200 juta untuk bantuan korban banjir di Aceh.

7. Pengangkatan Pegawai SPPG Menjadi ASN

Isu lain yang tak kalah kontroversial selama masa kepemimpinan Dadan Hindayana adalah pengangkatan pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Dadan menyatakan bahwa pegawai SPPG yang berhak diangkat menjadi ASN PPPK meliputi kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan.

“Hampir seluruh kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan yang sudah lama beroperasi nanti akan jadi ASN PPPK per tanggal 1 Februari,” kata Dadan saat ditemui awak media pada Senin, 19 Januari 2026. Sementara itu, pegawai inti SPPG yang baru bergabung diharapkan akan menunggu giliran untuk diangkat menjadi ASN.

Alasan di Balik Perombakan Pimpinan BGN

Pencopotan Dadan Hindayana dari jabatannya sebagai Kepala BGN, beserta dua wakilnya, Lodewyk Pusung dan Soni Sanjaya, didasarkan pada hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan selama hampir satu setengah tahun terakhir. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa ada beberapa pertimbangan mendasar di balik keputusan ini.

“Tentunya selama 1 setengah tahun melakukan monitoring dan evaluasi, banyak catatan-catatan yang kemudian itu menjadi dasar pertimbangan oleh Bapak Presiden untuk melakukan pergantian ini dengan harapan catatan-catatan tersebut dapat segera untuk kita perbaiki,” ujar Prasetyo.

Ia merinci bahwa catatan-catatan tersebut mencakup berbagai aspek, termasuk masalah kedisiplinan dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) tata kelola makanan. “Ada yang berkenaan dengan masalah kedisiplinan dalam menjalankan SOP. Ada yang berkenaan dengan masalah kedisiplinan dalam menjalankan tata kelola termasuk kedisiplinan di dalam menjaga kualitas dari makanan yang seharusnya sudah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional,” tutup Mensesneg.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar