YUTELNEWS.com | Jakarta ,Eddy Wijaya Bersama Ir. Windy Gambetta, M.B.A.: Teknologi Sangat Membantu, Namun Manusia Tetap Wajib Menjadi Penentu Kebenaran Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah merambah ke berbagai sektor kehidupan masyarakat, mulai dari pendidikan, dunia kerja, hingga pelayanan publik.
Kehadiran AI seperti ChatGPT diakui sangat membantu dan mempermudah pekerjaan. Namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan risiko yang menuntut kewaspadaan tinggi dari setiap pengguna.
Peringatan ini disampaikan langsung oleh Ir. Windy Gambetta, M.B.A., Peneliti Pusat Artificial Intelligence Institut Teknologi Bandung (ITB), saat berbincang bersama Eddy Wijaya dalam program Podcast EdShareOn — Eddy Sharing and Discussion. Windy mengingatkan masyarakat agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang dihasilkan teknologi AI.
AI Bukan Sumber Kebenaran Tunggal
Dalam diskusi tersebut, Windy menegaskan bahwa AI bisa saja salah dan mengalami fenomena yang disebut “halusinasi”.
“Kita harus ingat bahwa AI adalah alat bantu, bukan sumber kebenaran tunggal,” ujar Windy.
AI dirancang memberikan jawaban yang cepat dan terlihat meyakinkan, namun bukan berarti setiap hasilnya otomatis menjadi kebenaran mutlak.
“AI bisa melakukan kesalahan, memberikan informasi yang tidak akurat, bahkan menyampaikan hal yang keliru dengan gaya penyampaian yang sangat meyakinkan. Oleh karena itu, masyarakat wajib tetap melakukan verifikasi ulang terhadap setiap informasi yang bersumber dari hasil AI,” jelasnya.
Peringatan ini dinilai sangat krusial saat ini, mengingat maraknya penggunaan AI untuk menyusun karya tulis, mencari referensi akademik, hingga memproduksi konten secara instan tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Peluang Besar dan Tantangan Nyata
Wawancara ini juga membedah peluang sekaligus tantangan perkembangan AI di Indonesia
Potensi Kemajuan Jika digunakan dengan bijak, AI mempercepat riset ilmiah, meningkatkan efisiensi industri, dan membantu menyelesaikan masalah rumit Penurunan Daya Berpikir Kritis Penggunaan AI tanpa arah yang tepat berisiko menurunkan kemampuan analisis karena terlalu bergantung pada jawaban instan
Dampak Lapangan Kerja Otomatisasi dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja secara masif; masyarakat dituntut beradaptasi dan meningkatkan keterampilan agar tetap relevan Kejahatan Siber dan Etika Tersebarnya informasi palsu, manipulasi video dan suara (deepfake), serta tanggung jawab etika menjadi perhatian utama.
Manusia Tetap Memegang Kendali
Eddy Wijaya menekankan agar manusia tidak menyerahkan sepenuhnya proses berpikir dan pengambilan keputusan kepada mesin.
“AI diciptakan oleh manusia untuk membantu manusia, bukan untuk menggantikan peran kita membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kuncinya adalah keseimbangan: manfaatkan kemudahan teknologi, tetapi tetap lakukan pengecekan ganda sebelum mempercayai informasi apa pun,” tegas Eddy.
Windy Gambetta menutup dengan analogi:
“Rem itu bukan sekadar alat untuk membuat mobil berhenti. Keberadaan rem justru membuat pembalap berani mengebut dengan aman. Dengan tahu cara ‘mengerem’ dan memitigasi risiko AI, kita bisa memanfaatkan teknologi ini secara maksimal untuk kemajuan bangsa.”
Eddy Wijaya menutup obrolan dengan pesannya:
“Sukses itu, hanya masalah waktu.”
Selama kita terus belajar, tetap waspada, dan tidak pernah berhenti berpikir kritis, maka kemajuan teknologi akan menjadi sahabat terbaik bagi kemajuan kita semua.
Saksikan wawancara selengkapnya:
🔗 https://youtu.be/vZg86T3UfyA
Kunjungi situs resmi EdShareOn:
🔗 https://edshareon.com/
Salam Hormat,
Eddy Wijaya
EdShareOn Eddy Sharing and Discussion





































