Pergantian Pimpinan Badan Gizi Nasional: Alasan, Tanggapan, dan Sorotan Publik
Keputusan mengejutkan datang dari Istana Merdeka, di mana Presiden Prabowo Subianto mencopot Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana beserta dua wakilnya, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya. Pencopotan ini terasa mendadak, terlebih Dadan Hindayana baru saja menerima penghargaan Jasa Bintang Utama dari Presiden Prabowo empat bulan lalu atas kontribusinya dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pergantian ini didasari oleh sejumlah alasan krusial yang telah dipantau selama kurang lebih satu setengah tahun. Keputusan ini diharapkan menjadi momentum perbaikan bagi BGN.
Alasan di Balik Pencopotan
Menurut Mensesneg Prasetyo Hadi, terdapat beberapa poin penting yang menjadi pertimbangan utama Presiden dalam mengambil keputusan ini:
- Pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP): Dadan Hindayana dinilai bermasalah dalam menjalankan SOP terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketidakpatuhan terhadap prosedur yang telah ditetapkan menjadi salah satu sorotan utama.
- Kualitas Makanan: Masalah kedisiplinan tidak hanya terkait SOP, tetapi juga dalam menjaga kualitas makanan yang seharusnya telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional. Kualitas makanan yang disajikan dalam program MBG menjadi perhatian serius.
Prasetyo Hadi menambahkan bahwa Presiden Prabowo telah melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja selama 18 bulan terakhir. “Banyak catatan-catatan yang kemudian itu menjadi dasar pertimbangan oleh Bapak Presiden untuk melakukan pergantian ini dengan harapan catatan-catatan tersebut dapat segera untuk kita perbaiki,” ujar Prasetyo.
Struktur Kepemimpinan Lama dan Baru BGN
Struktur kepemimpinan lama yang diganti meliputi:
- Kepala BGN: Dadan Hindayana
- Wakil Kepala BGN: Irjen Pol Sony Sonjaya
- Wakil Kepala BGN: Mayjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung
Sementara itu, struktur kepemimpinan BGN yang baru berdasarkan penjelasan Prasetyo Hadi adalah sebagai berikut:
- Kepala BGN: Nanik Sudaryanti Deyang
- Wakil Kepala BGN: Agustina Arumsari
- Wakil Kepala BGN: Mayjen TNI Trenggono
Presiden Prabowo mengambil keputusan pergantian ini pada Selasa, Juni 2026, setelah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja para pejabat di bawahnya.
Apresiasi dan Harapan dari DPR RI
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyambut baik langkah Presiden Prabowo ini. Ia mengapresiasi pemerintah yang telah mendengarkan aspirasi masyarakat, penerima manfaat program, serta masukan dari berbagai kementerian dan DPR.
“Kami mengucapkan apresiasi dari DPR RI kepada pemerintah yang kemudian telah mendengarkan aspirasi dari masyarakat maupun penerima manfaat dan juga hasil koordinasi dengan lintas kementerian dan juga masukan dari DPR,” kata Dasco.
DPR berharap evaluasi ini menjadi momentum bagi BGN untuk melakukan perbaikan diri secara menyeluruh. “Kami harapkan dengan adanya evaluasi dan evaluasi ini yang dilakukan secara menyeluruh BGN akan berbenah diri dan terus melayani masyarakat penerima manfaat,” ujarnya.
Lebih lanjut, DPR menaruh harapan besar agar kepemimpinan BGN yang baru dapat mempercepat realisasi program pemerintah, khususnya dalam menjangkau daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). “Pergantian ini tentu tidak akan mempengaruhi pelayanan yang berlangsung selama ini dan harapan kami bahwa tujuan pelayanan terhadap terutama daerah 3T dapat segera direalisasikan,” ungkap Dasco.
Respons Dadan Hindayana Terkait Pencopotan
Menanggapi pencopotannya, Dadan Hindayana menyatakan bahwa pergantian anggota kabinet merupakan hak prerogatif Presiden. Ia mengakui bahwa Presiden Prabowo lebih memahami apa yang terbaik untuk pelaksanaan program kerja yang telah dicanangkan.
“Beliau paham betul yang terbaik untuk melaksanakan program kerja yang dicanangkan,” kata Dadan.
Dadan juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden Prabowo atas kepercayaan yang diberikan selama menjabat sebagai Kepala BGN. Ia yakin Presiden Prabowo akan membawa kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. “Insyaa Allah Beliau akan sukses memimpin bangsa Indonesia dan membawa kesejahteraan pada seluruh masyarakat,” tuturnya.
Ia juga turut mengucapkan selamat bekerja kepada pimpinan BGN yang baru, Nanik S Deyang, Agustina Arumsari, dan Mayjen TNI Trenggono. Dadan berharap kepemimpinan baru ini dapat menjadikan program MBG semakin berkualitas dan bermanfaat bagi seluruh penerima manfaat.
Kontroversi Laporan 19 Ribu Sapi dan Isu Pemborosan Anggaran
Pencopotan Dadan Hindayana kembali memicu ingatan publik terhadap kontroversi laporan mengenai 19 ribu ekor sapi yang dipotong setiap hari untuk program MBG. Laporan ini disampaikan Dadan dalam sidang kabinet paripurna pada Desember 2025, yang disambut antusias oleh Presiden Prabowo.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa menu daging sapi jarang sekali ditemui oleh para siswa penerima manfaat program. Bahkan, banyak laporan mengenai makanan yang basi atau tidak layak konsumsi dalam program MBG di berbagai daerah, yang sempat menimbulkan kasus keracunan makanan.
Belakangan, Dadan mengklarifikasi bahwa angka 19 ribu ekor sapi tersebut hanyalah sebuah simulasi atau perhitungan hipotetis, bukan gambaran kondisi riil harian. “Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau masak daging sapi maka butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi,” jelasnya pada akhir April 2026.
Selain kontroversi sapi, muncul pula isu pemborosan anggaran yang diduga menjadi salah satu alasan pencopotan. Seorang pejabat pemerintahan sempat mengindikasikan adanya sorotan terhadap kinerja salah satu lembaga yang disinyalir melakukan pemborosan anggaran.
Dadan Hindayana dilantik sebagai Kepala BGN oleh Presiden Joko Widodo pada 19 Agustus 2024, menjelang akhir masa jabatannya. Ia kemudian melanjutkan kepemimpinan program MBG yang menjadi prioritas Presiden Prabowo. Program MBG menargetkan 82,9 juta penerima dan telah menjangkau 61,9 juta penerima hingga Mei 2026, dengan anggaran mencapai Rp268 triliun pada tahun ini. Besarnya anggaran menjadikan pengawasan terhadap program ini semakin krusial agar berjalan efektif dan efisien.

















