BANDUNG —YUTELNEWS.com// Dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, serta bebas dari aksi perundungan (bullying) dan kekerasan, Ketua TP-PKK Kab.Bandung Hj.Emma Dety Permanawati mendorong terus sektor pendidikan untuk terus bergerak.
Melalui sosialisasi pencegahan tindak kekerasan terhadap anak, tindak radikalisme dilingkungan sekolah bagi guru bingbingan dan konseling yang dilaksanakan DALDUK PPA di Gedung Moch Toha, dirinya ingatkan untuk memperkuat komitmen Sekolah Ramah Anak (SRA) demi menjamin hak tumbuh kembang peserta didik, ungkap Hj. Emma Dety pada Saat pemberian materi pada kegiatan tersebut,pada Kamis (03/09/2026).
Dalam pemaparannya, Hj. Emma yang juga Sebagai Bunda Literasi Kab.Bandung, menyampaikan sejumlah tantangan nyata yang kerap dihadapi dunia pendidikan saat ini, khususnya maraknya aksi perundungan digital (cyberbullying) melalui perangkat ponsel pintar.
” Fenomena perundungan di media sosial tersebut tidak hanya berdampak pada para siswa, melainkan kerap menimpa tenaga pendidik. Selain itu, potensi ancaman paham radikalisme juga menjadi perhatian serius yang perlu dibentengi melalui penanaman sikap moderat, berpikir kritis, serta semangat kebangsaan,” ujar Emma.
Untuk mengatasi persoalan tersebut,Hj Emma mendorong agar sekolah dituntut hadir sebagai tempat yang inklusif dan mampu menghargai kebinekaan. Sekolah diharapkan dapat menerima seluruh peserta didik tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, fisik, maupun kondisi keterbatasan khusus (disabilitas) agar mendapatkan kesempatan belajar yang setara.
Menurutnya, terdapat lima prinsip utama Sekolah Ramah Anak yang ditanamkan dalam penyelenggaraan pendidikan harus terbebas diskriminasi.
” Sekolah harus bisa memastikan seluruh siswa mendapatkan perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan latar belakang dan memberikan
kepentingan terbaik bagi anak, dimana menjadikan kebutuhan serta keselamatan siswa sebagai prioritas utama,” katanya.
Selain itu, menurut Emma, sekolah harus menjamin ruang belajar yang aman bagi perkembangan fisik, mental anak serta mendengarkan dan melibatkan suara serta aspirasi peserta didik dalam lingkungan sekolah. Menjaga siswa dari segala bentuk kekerasan, penelantaran, intimidasi, dan eksploitasi.
Diakhir kesempatannya, pada acara yang dibuka secara langsung oleh bapak Bupati Bandung KDS, Emma berharap Sinergi antara sekolah, Pemerintah Daerah dan masyarakat dapat terus ditingkatkan agar seluruh sekolah mampu menerapkan prinsip inklusivitas secara menyeluruh, sehingga dapat tercipta suasana belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh anak, tukasnya.
Yans.







































